Dinas Pendidikan Diduga Sarang Korupsi di Aceh Timur

Beritakita.co | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur diduga menjadi tempat nomor satu praktik tindak pidana korupsi dari pada instansi-instansi yang lain di Kabupaten setempat, Sabtu 20/10/2018.

Selain kasus korupsi, Tunjangan Profesi Guru (TPG /Dana Sertifikasi Guru) Semester II Triwulan IV tahun 2017 yang melibatkan Kepala Dinas Abdul Munir dan Bendaharanya Hijrah Saputra, juga terdapat 3 (Tiga) kasus korupsi lainnya, yakni korupsi dana iuran PGRI, Jasa Gure dan uang Zakat pada dinas tersebut.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Kejaksaan Negeri Idi, Abun Hasbulloh Syambas, S.H, M,H, melalui Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus), Helmi Abdul Aziz, S.H menerangkan bahwa, tindak pidana korupsi atas kasus iuran PGRI dan Jasa Gure ditetapkan Khalidin sebagai tersangkanya, saat itu ia menjabat sebagai Kasubag Keuangan pada Dinas Pendidikan Aceh Timur.

“Untuk kasus korupsi PGRI mengalami kerugian senilai Rp 120 juta, sedangkan untuk Jasa Gure Rp 100 juta dan tersangkanya kini sudah ditahan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Helmi mengaku, kedua kasus tersebut sedang dalam proses sidang di Pengadilan Negeri Tipikor Banda Aceh dan akan ada putusan hukum pada akhir bulan ini.

Selain dua kasus itu, Khalidin diduga sebagai dalang utama atas kasus korupsi uang zakat dinas pendidikan Aceh Timur.

“Kasus korupsi uang zakat diduga juga Khalidin pelakunya, karena setelah dipotong dari para Guru uang tersebut langsung diserahkan kepada tersangka” tuturnya.

Saat ditanya apakah ada tersangka yang lain dalam kasus ini, Helmi mengatakan belum mengetahui karena kasus tersebut belum ditangani lebih lanjut.

“Kita belum menangani lebih lanjut kasus korupsi zakat tersebut karena harus diproses kasus iuran PGRI dan Jasa Gure terlebih dahulu agar tidak habis masa tahanan tersangka, jika ditunggu pasti akan memakan waktu lebih lama, sehingga kita belum tahu apakah ada orang lain yang terlibat,” jelas Helmi.

Helmi menambahkan, kasus uang zakat tersebut kita beri kesempatan kepada tersangka untuk segera dikembalikan, dan prosesnya kita limpahkan kepada pihak Ispektorat Aceh Timur. Untuk jumlah nilainya biar pihak Inspektorat yang menjelaskannya,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak Inspektorat Kabupaten Aceh Timur saat dijumpai beberapa waktu lalu masih belum mengetahui jumlah uang zakat yang bermasalah tersebut, mereka mengaku masih melakukan pemeriksaan.

“Kita belum mengetahui berapa jumlah uang zakat tersebut, karena masih dalam proses pemeriksaan” kata Resmiwati, SH, MH, Sekretaris Inspektorat Aceh Timur.

Kemudian pada 19 Oktober 2018 wartawan Beritakita.co, kembali mendatangi kantor Inspektorat, namun yang bersangkutan tidak dapat dijumpai.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment