Mencegah Penularan HIV/AIDS, Aceh Timur Laksanakan Workshop Pemetaan Populasi Kunci

Beritakita.co | Populasi kunci merupakan kelompok berisiko tertular atau menularkan HIV yang disebabkan oleh hubungan seks berisiko atau penggunaan napza suntik. Keberadaan populasi kunci di masyarakat sebagai individu ataupun kelompok sifatnya dinamis dan secara terus menerus berubah, sehingga besaran populasi dan karakteristik sosial disetiap lokasi atau hotspot juga akan selalu mengalami perubahan. Terkait kebutuhan data untuk pelaksanaan program penanggulangan HIV dan AIDS pada kelompok populasi kunci.

Berdasarkann hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Dinas kesehatan melakukan Workshop mengenai Pemetaan populasi Kunci terhadap bahaya penyakit HIV/AIDS di Kabupaten tersebut.

Maksud dan tujuan diadakannya workshop ini untuk memuthakhirkan data serta penangulangan penyakit HIV/AIDS yang masih menjadi momok nomor wahid, mematikan serta dampak sosial masyarakat yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut.

Di era awal tahun 90-an Pemerintah Indonesia sangat gencar melaksanakan kampanye Anti AIDS/HIV kepada seluruh masyarakat di tanah air, namun dewasa ini dampak dari penaykit yang belum ada obatnya sampai sekarang ini kalah popular dengan bahaya Narkoba, termasuk di Aceh Timur padahal menurut dr. H. Zulfikri selaku Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Timur dampak dan bahaya dari penyakit HIV/AIDS ini sangat memprihatinkan terutama dari segi penularannya. Untuk saat ini jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Aceh Timur yang terdata sebanyak 11 orang penderita dan apabila kita tidak melakukan pengawasan serta pemetaan populasi kunci kembali kita tidak mengetahui jumlah penderita penyakit ini. “ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan hasil estimasi dan proyeksi HIV/AIDS dari Kemenkes pada Tahun 2014 memperkirakan sebanyak satu juta orang di Indonesia akan terinfeksi HIV/AIDS pada Tahun 2025 nanti, dan apabila upaya penangulangan HIV dan AIDS tidak segera dilakukan maka estimasi tersebut akan benar-benar terjadi, sebab permaslahan ini sudah menjadi permasalahan nasional karena kasus ini seperti fenomena gunung es, kasus terlihat kecil dari yang tidak terlihat, “Pada umumnya mereka yang positif terkena virus HIV/AIDS memiliki rentan waktu untuk mengetahuinya. Paling cepat 3 tahun dan paling lama 10-15 Tahun baru virus ini menguasai seluruh jaringan tubuh manusia yang berujung pada kematian” ungkapnya.

Sementara itu Asisten II Bidang Keistimewaan Aceh, Ekonomi dan Pembangunan Setdakab Aceh Timur, H. Usman A. Rachman, SH, SP, MM dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah Aceh Timur sangat mendukung kegiatan ini dalam upaya memberikan pemahaman yang benar terhadap HIV/AIDS agar masyarakat turut berpartisipasi dalam upaya pencegahan penyakit ini.

Oleh karenanya, ia mengharapkan upaya pencegahan HIV/AIDS bukan hanya dari perspektif kesehatan semata, tapi juga dibarengi dengan penyadaran bagi mereka yang berprilaku menyimpang agar kembali kejalan yang benar. Kemudian meningkatkan kemampuan petugas dalam upaya pelacakan kasus dan juga mampu membangun komunikasi dengan populasi beresiko seperti waria, laki seks laki, wanita pekerja seks dan penasun terus meningkat, oleh karena itu pemetaan populasi kunci dipandang sangat perlu dalam upaya penanganan dini penyebaran HIV/AIDS. Selain pemetaan populasi kunci juga bertujuan untuk mengetahui jumlah dan potensi resiko penularan virus HIV/AIDS. Dengan hasil pemetaan tersebut nantinya populasi beresiko mau untuk memeriksakan dirinya ke fasilitas kesehatan “ujarnya.

Dari data yang diperoleh, jumlah penderita HIV/AIDS di Provinsi Aceh terus meningkat, sejauh ini sudah 650 kasus ditemukan, dan untuk Aceh Timur sendiri tercatat 11 kasus dengan asusmsi apabila dari 11 kasus yang ditemukan di Kabupaten Aceh Timur pada Tahun 2018 ini tidak segera dicegah atau ditanggulangi akan menularkan ke 110 orang lainnya dengan berbagai cara. Seperti seks bebas, pengunaan jarum suntik yang bergantian termasuk resiko mengunakan pisau cukur yang bergantian.

Dalam acara workshop pemetaan populasi kunci yang dilaksanakan di Aula Rumah Sakit Graha Bunda, Idi dihadiri oleh Asisten II Setdakab Aceh Timur, Kadis Kesehatan Aceh Timur, Camat Simpang Ulim, Camat Idi Rayeuk, Camat Peurelak Kota, Danramil Idi Rayeuk, unsur Dinas Sosial, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, unsur kesehatan dan wartawan.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment