PT. Perkebunan Socfindo Diminta Tanggung Jawab Cemari Sungai Cinendang Singkil

Beritakita.co | Pemerintahan Kabupaten Aceh Singkil meminta pihak PT. Socfindo Lae Butar bertanggung jawab dan meminta kejelasan kronologis jebolnya kolam limbah hingga cemari Sungai (Lae) Cinendang, Rimo, Aceh Singkil, Provinsi Aceh.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Nazri kepada wartawan Jumat (5/10) mengatakan, pihak PT. Perkebunan Socfindo Lae Butar hadir ke kantor Setdakab Aceh Singkil dalam rangka memenuhi panggilan. Pemkab Aceh Singkil minta kejelasan terkait kronologis jebolnya kolam limbah, hingga sampai mencemari Sungai.

Mereka, kata Nazri, Kepala perwakilan perusahaan perkebunan PT. Socfindo didampingi dua asistennya, langsung berkoordinasi dengan Wakil Bupati Aceh Singkil Sazali, Sekdakab Drs Azmi dan termasuk pihak Dinas Lingkungan Hidup.

“Kita tidak tahu persis waktunya, namun mereka pihak PT. Socfindo dalam waktu dekat berjanji akan memberikan penjelasan kronologis secara tertulis kepada Pemkab Aceh Singkil atas jebolnya tanggul kolam limbah,” ujarnya.

Terkait masalah adanya terdampak gatal-gatal kulit pada masyarakat daerah aliran sungai di Desa Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, atas dugaan dampak pencemaran limbah PT. Socfindo, Nazri enggan untuk berkomentar lebih, namun ia menyatakan itu pihak Dinas Kesehatan yang punya kewenangan.

Yang pasti, ungkapnya, tim Dinas Lingkungan hidup sudah mengambil contoh bahan limbah (sampel) limbah pabrik yang jebol dikolam masyarakat yang di kontrak masyarakat sebagai pihak kedua.

“Ada empat jenis bahan percontohan atau sampel yang diambil untuk uji ambang batas baku mutu limbah cair tersebut, yakni dari kolan limbah I, kolam II, yang bercampur dengan air dan air Sungai Cinendang sebagai pembanding, kita tunggu hasilnya,” ujar Nazri.

Kalaupun sudah selesai uji Lab, pihak Lingkungan Hidup juga akan menganalisis kembali, dan bila sampel limbah melebihi ambang batas baku mutu parameter air, udara dan tanah, kita akan mengambil langkah selanjutnya bila kemungkinan membahayakan.

Sebelumnya, M Nasir Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh kepada wartawan Kamis (4/10) melalui telepon seluler meminta pihak Pemkab Aceh Singkil bersikap tegas kepada pihak perkebunan PT. Socfindo atas jebolnya kolam limbah hingga cemari Sungai Cinendang Singkil.

Pihak Pemkab harus melakukan pengambilan sampel air, juga harus dilakukan evaluasi dokumen lingkungan untuk melihat upaya penanganan limbah yang dihadapkan pada prosedural pengelolaan limbah sesuai dengan ketentuan hukum, baik secara infrastruktur kolam, teknologi yang digunakan, serta kelengkapan perizinan.

Pencemaran limbah bagian dari pidana lingkungan. Jadi, selain melakukan evaluasi izin, Pemerintah setempat juga harus melakukan perhitungan kerugian lingkungan yang diakibatkan oleh pencemaran limbah tersebut. Pemerintah harus meminta pertanggungjawaban hukum kepada pihak perusahaan untuk memperbaiki lingkungan yang rusak dan kerugian ekonomi masyarakat yang ditimbulkan.

Ia mengatakan, jika pencemaran lingkungan tersebut terjadi karena perusahaan lalai sehingga mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku mutu kerusakan lingkungan hidup, yang mana hal tersebut mengakibatkan orang mati, maka dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 9 tahun dan denda paling sedikit 3 miliar dan paling banyak 9 miliar. Ketentuan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

“Dalam aspek perizinan dapat dilakukan pencabutan izin, hasil hitungan kerugian lingkungan bagian dari denda yang harus dibayarkan,”tegasnya.

Kontributor Aceh Singkil : Khairuman

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment