LMND Minta Penegak Hukum Hentikan Proyek Rp 29 Miliar Milik PT. Medan Smart

Beritakita.co | Proyek pembangunan jalan lintas Peunaron – Lokop hingga Gayo Lues, Kabupaten Aceh Timur yang dilelang akhir Juli lalu dengan Kode 16266106, dan pagu senilai Rp 29,525 Miliar. Proyek tersebut dimenangkan PT. Medan Smart Jaya, Minggu 30/09/2018.

Sekretaris Eksekutif Kabupaten Liga Mahasiswa Untuk Demokrasi (EK-LMND) Aceh Timur, Zulkifli mengatakan, Proyek yang bersumber dari Dana Otsus (Otonomi Khusus) Aceh, APBD 2018 itu sepertinya harus dihentikan, karena dinilai telah merugikan Pemerintah dan Masyarakat Aceh Timur, mereka menduga material yang digunakan untuk proyek tersebut merupakan hasil curian (Ilegal).

Zulkifli juga meminta pihak penegak hukum segera mengambil tindakan, atas kasus tindak pidana eksploitasi alam yang dilakukan oleh PT. Medan Smart Jaya. Kemudian segera menangkap Pimpinan, Manager, serta semua yang terlibat dalam eksploitasi alam tersebut dan memprosesnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Termasuk oknum-oknum yang membekingi dan oknum pejabat yang melakukan pembiaran terhadap aktivitas galian C ilegal tersebut.

“Kami minta proyek itu dihentikan sementara waktu, karena kami menduga PT. Medan Smart Jaya menggunakan material dari hasil galian C ilegal yang selama ini mereka lakukan untuk membangun jalan tersebut” kata Zulkifli.

Kita juga tidak tahu bagaimana kualitas material hasil curian tersebut.” sambungnya.

Aktivis Mahasiswa itu menambahkan bahwa, jalan lintas Provinsi itu setiap tahun selalu dianggarkan oleh Pemerintah Aceh untuk membangun jalan, namun jalanan tidak pernah bagus, mereka yang mengerjakan pengaspalan, mereka juga yang menghancurkan dengan dilintasi mobil pengangkut hasil galian C ilegal menggunakan truck besar.

“Bagaimana bisa bagus truck pengangkut hasil galian C milik PT. Medan Smart Jaya selalu mondar mandir di jalan tersebut, sudah dibuat dengan kualitas tidak terjamin ditambah dengan mobil bermuatan tinggi melawati jalan tersebut. Pihak perusahaan yang selalu dapat keuntungan karena setelah mereka buat, mereka rusakin lagi, nanti tahun depan buat lagi, masyarakat yang tinggal di pedalaman Aceh Timur tidak pernah menikmati jalan yang bagus”tutur Zulkifli dengan raut muka kesal.

“Sudah Alam mereka rusak, jalanan-pun mereka rusak, kapan kami bisa maju dan sejahtera jika uang Negara hanya dianggarkan ketempat yang sama setiap tahunnya, yang ada musibah yang masyarakat rasakan” tuturnya.

Kita bukan anti terhadap pembangunan jalan tersebut, namun kami mendambakan pembangunan yang berkualitas agar bisa digunakan Masyarakat dalam waktu yang lama dan Negara tidak harus memikirkan hal yang sama setiap tahun, ” tutup Zulkifli.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment