SPPK Nilai Aminullah Tidak Serius Urusi Banda Aceh

Beritakita.co | Solidaritas Pemuda Peduli Kota (SPPK) Banda Aceh menilai satu tahun lebih kepemimpinan Aminullah Usman di Banda Aceh terjadi berbagai polemik yang disebabkan oleh kelalaian dan tidak tegasnya Aminullah dalam memimpin Banda Aceh.

Banyak persoalan yang berlalu begitu saja seperti persoalan penegakan Syariat Islam, Air Bersih, Sampah dan persoalan lainnya, padahal pada masa kampanye beliau persoalan tersebut menjadi prioritas pemerintah Aminullah Usman namun pada hari ini itu belum terealisasikan. ” Tidak adanya tindak lanjut terkait pesta waria pada Desember 2017 lalu, merupakan bentuk ketidaktegasan dan kelalaian Aminullah dalam memimpin Banda Aceh. Publik justru menilai Aminullah seakan-akan cenderung membela kaum LGBT,” ungkap Muzir Koordinator SPPK Banda Aceh, Minggu (23/09/2018).

Tak hanya itu, kata Muzir, pemerintah Aminullah juga seakan terbawa arus dengan situasi politik saat ini, dengan menghalang-halangi kebebasan masyarakat Banda Aceh untuk berdemokrasi.

Ia melanjutkan beberapa persoalan lainnya, dibeberapa kawasan seperti Peunyerat, beberapa kawasan di Lampineung dan Lhueng Bata serta beberapa titik lainnya, pihaknya mendapatkan keluhan warga terkait persoalan air yang macet atau sering berlumpur. Begitupun dengan penataan parkir yang semrawut membuat kota Banda Aceh kerap dilanda macet, sementara income Pemkab dari parkir juga belum ditata dengan baik. Belum lagi terkait sampah dibeberapa objek wisata yang dibiarkan menumpuk.

“Inikan sejumlah problem yang semestinya jadi perhatian Walikota. Bukan justru menghabiskan banyak waktu untuk keluar daerah dan luar negeri serta acara seremonial belaka. Jangan sampai sejumlah problem dan polemik ini dibiarkan semakin gemilang di Banda Aceh,”ujar mantan wakil presma STKIP BBG Banda Aceh itu.

Dia menyarankan agar Aminullah segera melakukan pembenahan dan melakukan langkah kongkrit, bukan hanya sebatas mengumpulkan dalih dan alasan lalu menjawabnya dalam siaran “Walikota menjawab”. “Masyakat Banda Aceh itu masyarakat yang heterogen, 75% lebih adalah perantau dari berbagai daerah, dan sudah tergolong masyarakat cerdas. Jadi yang ditunggu masyarakat itu bukan dalih plus alasan tapi gebrakan nyata,” tegasnya.

Muzir juga menilai terkait rencana pembangunan gedung di taman sari sebagai langkah blunder Aminullah. “Banda Aceh itu ruang publiknya semakin sempit, hanya sekitar 13% lagi. Jika semua ingin dibangun gedung agar mendapatkan fee proyek maka itu tentunya sangat disayangkan, karena semestinya yang dilakukan itu pembugaran ruang publik bukan membangun gedung di ruang publik,” cetusnya.

Sebagai orang yang merupakan bagian pemenangan Aminullah-Zainal pada Pilkada yang lalu berharap Aminullah tak terus menerus terbuai dengan bahasa-bahasa manis orang disekitar. “Sudahlah Pak Aminullah kami sarankan cepat-cepat bangun dari tidur lelapnya, jika tidak maka kekecewaan masyarakat semakin mendalam dan masyarakat tidak akan percaya lagi dengan Walikota.

“Sudah program gebrakan 100 hari tak kelihatan, 1 tahun lebih menjabat justru menghadirkan polemik yang berujung kekecewaan. Apakah hal ini akan dibiarkan berlanjut hingga 5 tahun?,” Imbuhnya.

Jadi, kata Muzir, tolong hargai amanah rakyat itu, jangan cuma mementingkan bisikan orang sekitar, jika problem ini ini tak juga terentaskan maka kemarahan rakyat pasti tak bisa dihindarkan,” pungkasnya.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment