PT. JGC Indonesia Diduga Masih Ikut Campur Pekerjaan yang Sudah Disubkan

Beritakita.co | Pihak Kepolisian Aceh Timur kembali lakukan mediasi untuk yang ke 3 kalinya perseteruan antara PT. Rakan Sejahtera dengan PT. Barata Indonesia yang berlangsung di Aula Wira Satya, Mapolres Aceh Timur, Peudawa, Rabu 25/07/2018 sejak pagi hingga sore hari.

Mediasi ini guna untuk mencari solusi terkait permasalahan yang diduga PT. Barata Indonesia belum menyelesaikan sisa kontrak senilai Rp 6 miliar dari jumlah keseluruhan Rp 9,7 miliar atas project 12 unit tangki penampung minyak dan gas di CPP Blok- A milik PT. Medco E & P Malaka. Adapun mediasi yang ke 3 kali ini turut dihadiri oleh pihak PT. Medco E&P Malaka selaku mencon utama, pihak PT. Barata Indonesia dan PT. Rakan Sejahtera Utama selaku yang bersiteru, namun sangat disayangkan PT. JGC/JEC selaku mencon dari PT. Barata tidak bersedia hadir tanpa diketahui alasan yang jelas.

Dalam proses mediasi tersebut juga terdapat banyak kejanggalan yang dipaparkan oleh PT. Barata indonesia  seperti pengambil alihan pekerjaan yang sudah disubkan ke PT. Rakan Sejahtera Utama, pembayaran gaji karyawan PT. Rakan oleh PT. Barata, bahkan pasokan alat berat masih dilakukan oleh PT. JGC/JEC Indonesia yang merupakan itu tanggung jawab PT. Rakan. Berbagai alasan juga disampaikan oleh pihak PT. Barata namun pihak PT. Rakan juga mempunyai alasan untuk tidak menerima alasan tersebut, sehingga belum ada titik temu sampai saat ini.

Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro, S.I.K,MH melalui Wakapolres Kompol Apriadi, selaku yang memediasi kedua perusahaan tersebut menjelaskan bahwa,”Saat ini memang belum ada titik temu, namun untuk pertemuan yang ke 3 kalinya ini kita sudah bisa menyimpulkan puncak dari permasalahan ke 2 perusahaan tersebut”tutur Wakapolres kepada media.

Sambungnya, hari ini kita belum ada sebuah keputusan karena pihak PT. JEC tidak hadir dengan tidak ada alasan yang jelas, menurut informasi mereka sedang berada di Banda Aceh, padahal sudah jauh hari kita mengirim undangan untuk membahas permasalahan ini. Pihak PT. Barata juga seperti main-main dalam menyelesaikan permasalahan ini, karena dalam pertemuan yang harusnya mendapat keputusan tetapi mereka mengutuskan Staf lapangan dan Staf keuangan untuk menghadiri pertemuan ini dan mereka tidak punya kapasitas dalam mengambil keputusan untuk permasalahan ini” jelasnya.

Saya minta kepada pihak PT. Medco dan juga PT. JEC tidak boleh lepas tangan dalam perkara ini kata Wakapolres, karena ini menyangkut dengan uang masyarakat yang dipakai oleh PT. Rakan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, sehingga akan memicu konflik dilapangan jika tidak segera diselesaikan. Perlu ditegaskan bahwa kami disini hanya menengahi dan tidak punya kepentingan terhadap siapapun, yang menjadi kepentingan kami adalah menjaga situsi aman dan kondusif,” tandasnya.

Sementara itu, Rivian Pragitta Oktara selaku Field Relation Manager PT. Medco E & P Malaka mengatakan, “Hari ini kami hanya memenuhi undangan dari Wakapolres untuk hadir dalam mediasi ini karena kami ada hubungan kontrak dengan JEC, dan permasalahan ini juga akan kita rundingkan”katanya.

Menanggapi pernyataan warga yang mengancam akan mengambil tindakan jika masalah ini tidak selesai, Pragitta mengatakan,” Medco merupakan objek vital Nasional dan itu menjadi tanggung jawab bersama dengan pemerintah untuk menjaganya. Kita berharap kepada masyarakat untuk bersabar, karena setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya,” tandasnya.

Seperti yang diketahui, PT. JGC/JEC Indonesia merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak dibidang contraktor diberbagai bidang perusahan termasuk penyedia barang dan jasa untuk perusahaan migas. PT. JEC saat ini sedang bekerja sama dengan PT. Medco E & P Malaka untuk pengerjaan proyek di CPP Blok – A, Kabupaten Aceh Timur.

Namun demikian Perusahaan sebesar itu juga tidak bisa bekerja sendirian, mereka mensubkan pekerjaan tertentu kepada perusahaan yang lain. Seperti proyek pembuatan tangki minyak dan gas di CPP Blok-A milik PT. Metco E & P Malaka, sebanyak 12 unit yang di subkan ke PT. Barata Indonesia.

Tidak hanya disitu, PT. Barata Indonesia dalam pekerjaan tersebut juga mensubkan ke PT. Rakan Sejahtera Utama yang merupakan perusahaan swasta lokal, berpusat di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Akibat hal tersebut PT. Barata Indonesia dengan PT. Rakan Sejahtera Utama menjadi bersiteru karena diduga PT. Barata Indonesia belum menyelesaikan sisa kontrak atas project 12 unit tangki penampung minyak dan gas di CPP Blok-A milik PT. Medco E & P Malaka.

Berbagai cara telah diupayakan untuk mencari titik temu dan puncak masalah karena kedua perusahaan subcon tersebut bersikeras dengan membenarkan diri masing-masing. Bahkan pihak kepolisian dari Mapolres Aceh Timur sudah yang ke 3 kalinya bertindak dan memfasilitasi ke 2 perusahaan tersebut untuk mediasi, namun belum juga mendapat sebuah keputusan.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment