Kampus Rasa Pabrik

Beritakita.co | Liberalisasi pendidikan merupakan suatu upaya negara dalam membungkam mahasiswa kritis terhadap keadaan objektif pendidikan kita saat ini.

Seperti yang dirilis oleh salah seorang Pengurus Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa untuk Demokrasi (EW-LMND) Aceh, Munzir Abe mengatakan, “Saya melihat bahwa bagi negara kemajuan pendidikan bagaikan jargon semata. ” pada Rabu 18/07/2018.

Menurutnya, banyak lulusan yang tidak seimbang dengan tampungan manusia terpendidik untuk memiliki kesempatan kerja yang seharusnya disediakan negara.

Ketika kondisi rasional manusia berlomba-lomba masuk perguruan tinggi untuk kemudian menjadi manusia terpendidik namun al-hasil kita tidak lebih bodoh dari seekor kuda yang menjinak mengikuti apa saja yang diperintah tuannya.

Lalu pertanyaan-nya adalah apakah negara serius dalam mencerdaskan kehidupan bangsa? Atau kecerdasan seorang manusia hanya bertulis angka dan abjad yang tidak bermakna? Seriuskah institusi pendidikan dalam mendidik? Atau hanya didik untuk menjadi budak modern?

Masih dengan Munzir Abe, “Saya menyimpan banyak pertanyaan mengenai kondisi pendidikan kita yang terpuruk seperti ini. Yang kemudian kaum feodal tak henti-hentinya mengeksploitasi cara berpikir manusia.

Dalam sebuah dialog dengan kawan-kawan, saya pernah menyampaikan bahwa kondisi pendidikan jauh dari harapan para “founding father” kita.

Kihajar Dewantara adalah figur sekaligus pejuang pendidikan bangsa, dengan konsep Asahan, Asih, Asuh kita dapat membawa pendidikan kearah kemajuan.

Bagitu juga Tan Malaka dengan konsep “Sekolah Rakyat” yang mencoba memadukan konsep pendidikan progresif berbasis kerakyatan. Namun semua itu hilang entah kemana bagaikan Hulu tak bertepi dan juga rimba tak bertuan.

Aktivis mahasiswa itu juga berpendapat bahwa, kondisi kampus negeri saat ini seolah sudah menjadi pabrik dan ladang bisnis bagi pemerintah dan rektorat pengurus kampus.

Ia mengajak kepada generasi muda intelektual untuk bangkit melawan kezaliman yang sudah mejarah negeri dengan kebodohan atas kemerdekaan berfikir dalam kontek ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saatnya intelektual progresif bergerak untuk melawan kezaliman atas kemerdekaan berfikir dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian kampus melahirkan pemimpin yang pro terhadap rakyat,” tutup Munzir Abe.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment