Rupiah Terjungkal, Ini Penjelasan BI


BERITAKITA.CO | Bank Indonesia (BI) akhirnya angkat bicara terkait nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang semakin terpuruk. Berdasarkan data JISDOR BI pada Rabu (09/05), nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS berada pada posisi Rp14.074 per dolar AS, melemah lebih dalam dibandingkan posisi Selasa (08/05) yang sebesar Rp14.036 per Dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, dalam pernyataan resminya mengatakan, pelemahan Rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir merupakan dampak dari menguatnya Dolar AS secara berskala luas (broadbased) terhadap seluruh mata uang, sehubungan dengan semakin solidnya ekonomi AS ditengah lambatnya pemulihan ekonomi diberbagai kawasan.

“Nilai tukar Rupiah secara year to date (ytd) per 08 Mei 2018 melemah 3,44%, sedangkan Peso Filipina melemah 3,72%, Rupee India 4,76%, Real Brasil 6,83%, Rubel Rusia 8,93%, dan Lira Turki 11,51%. Tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara maju lainnya juga besar,” ujar Agus.

Menurutnya, Indonesia telah mengalami beberapa tekanan yang cukup besar seperti saat ini dalam lima tahun terakhir sejak Bank Sentral AS melakukan program tapering off di tahun 2013.

“BI meyakini bahwa Indonesia juga akan berhasil melewati tekanan saat ini dengan baik, dengan perekonomian yang tetap tumbuh berkesinambungan dan stabil,” ungkapnya.

Kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercermin dari data realisasi pertumbuhan PDB Triwulan IV 2017, serta pertumbuhan PDB Triwulan I 2018 sebesar 5,06% (yoy), yang tetap stabil, kuat, dengan struktur ekonomi yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018 merupakan capaian tertinggi di pola musiman triwulan I sejak tahun 2015.

Permintaan domestik yang meningkat pada triwulan I 2018 juga didukung oleh investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat. Sementara itu, kestabilan inflasi tetap terjaga pada level rendah sesuai target 3,5%+/-1%.

“Untuk menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi, Bank Indonesia tengah terus menempuh langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan termasuk terus melanjutkan intervensi di pasar valuta asing secara terukur, stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter valas dan Rupiah, termasuk membuka lelang Forex Swap untuk menjaga ketersediaan likuditas Rupiah dan menstabilkan suku bunga di pasar uang untuk memastikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah terkelola dengan baik,” jelas Agus.

Lebih jauh dikatakannya, BI juga tengah mempersiapkan langkah kebijakan moneter yang tegas dan akan dilakukan secara konsisten, termasuk melalui penyesuaian suku bunga kebijakan 7-day Reverse Repo Rate. “Penyesuaian kebijakan suku bunga dilakukan dengan lebih memprioritaskan pada stabilisasi, untuk memastikan keyakinan pasar dan kestabilan makro ekonomi nasional tetap terjaga,” tutup Agus.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment