Pelaku Usaha Keripik Di Langsa, Keluhkan Ketersediaan Bahan Baku


BERITAKITA.CO | Asrizal H Asnawi, Anggota DPR Aceh terus berupaya mendorong pertumbuhan dan pengembangan usaha kreatif berbasis home industri sebagai bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan yang digalakkan Pemerintah Pusat.

“Kita terus mendorong agar pertumbuhan ekonomi kreatif bisa bergeliat sebagai pondasi ekonomi rakyat,” kata Asrizal saat mengunjungi usaha keripik ubi di Gampong Karang Anyer, Kota Langsa, baru-baru ini.

Dikatakan Asrizal, adanya keluhan pelaku usaha kreatif seperti pedagang keripik ubi tentang kelangkaan bahan bakunya harus mendapat respon dari Pemerintah.

Ia menyebut, perlu adanya dorongan kepada Pemerintah untuk memetakan zona pertanian di daerah itu.

Tujuannya, lanjut Asrizal, agar tersedianya kebutuhan pokok masyarakat dari hasil pertanian itu sendiri seperti jagung atau singkong yang bisa dikembangkan sebagai ekonomi kreatif berbasis usaha rumahan (home industri).

“Usaha keripik singkong di Kota Langsa sudah menjadi salah satu peganan yang acap dijadikan oleh-oleh, selain kecap dan terasi. Ini perlu terus dikembangkan,” imbuh politisi PAN tersebut.

Sebelumnya, sejumlah pengrajin usaha keripik singkong (ubi kayu) di Kota Langsa, mengeluh atas kelangkaan bahan baku pembuatan makanan ringan tersebut.

Sulistiyo Rais (61), pemilik usaha keripik “Aduh Hai” Desa Karang Anyer, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa mengatakan, kelangkaan ubi kayu sebagai bahan baku pembuatan keripik telah berlangsung lama.

“Sudah lama terjadi kelangkaan bahan baku singkong disini. Selama ini pasokannya dikirim dari Sumatera Utara,” ujarnya.

Menurut dia, pasokan singkong dari Sumatera Utara sebagai antisipasi dari tidak tersedianya di pedagang pasar Langsa maupun petani lokal.

Diakuinya, sejumlah areal pertanian yang biasanya ditanami ketela pohon (singkong) di desanya telah berubah fungsi menjadi bangunan komplek perumahan, sehingga petani kesulitan mendapatkan lokasi bercocok tanam.

Sulistiyo Rais mengaku, usaha keripik yang selama ini menjadi tumpuan mata pencaharian keluarganya itu dirintis sejak tahun 1992.

“Kalau tahun 1992 hingga 2010 masih bisa ditemui lokasi pertanian yang menanam singkong. Tapi kini mulai sulit,” katanya.

Kontributor Langsa : Mustafa Rani

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment