Penegak Hukum Diminta Usut Dugaan Penyalahgunaan Wewenang Pada Kopkar Mon Madu

BERITAKITA.CO | Sejumlah karyawan yang menjadi anggota Koperasi Karyawan (Kopkar) Mon Madu PTPN I seperti Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tanjong Seumentoh, Kebun Lama dan Kebun Baru meminta kepada penegak hukum  Kepolisian, Kejaksaan maupun pihak Holding PTPN III agar mengusut secara tuntas dugaan penyalahgunaan wewenang dan dugaan korupsi di tubuh Kopkar Mon Madu tersebut.

Pasalnya, koperasi karyawan yang seharusnya benar-benar menjadi penyokong perekonomian bagi seluruh karyawan, menjadi mala petaka bagi seluruh anggota koperasi. Bagaimana tidak, saat ini Kopkar Mon Madu disinyalir memiliki tunggakan pajak kepada negara mencapai 10 hingga 13 miliar yang diperkirakan sejak tahun 2010.

Dari hasil opservasi sejumlah wartawan, Kopkar Mon Madu saat ini managemennya sangat amburadur, bahkan belum lama ini Manager yang berinisial (HD) dan beberapa orang pengurus lainnya sudah mengundurkan diri karena merasa tidak nyaman berkerja akibat adanya tekanan dari pihak managemen.

Menurut beberapa orang karyawan yang enggan jati dirinya disebutkan, membeberkan kepada awak media berbagai persoalan yang terjadi di tubuh managemen Kopkar tersebut. Dikatakannya, saat ini jumlah karyawan Kopkar mencapai 5000-an orang, untuk menjadi anggota harus membayar uang administrasi (simpanan pokok) sebesar Rp 5000 per orang/bulan. Sedangkan iuran wajib karyawan pelaksana Rp 2000/bulan dan untuk karyawan pimpinan sebesar Rp 10.000 per/bulan serta untuk setingkat Kepala Bagian (Kabag) mencapai Rp 20.000 per/bulannya.

” Kopkar yang sudah berdiri sejak 29 tahun lalu itu seharusnya menjadi koperasi yang sehat. Apalagi persediaan pekerjaan yang disiapkan oleh PTPN 1 selalu ada setiap tahunnya seperti, pengangkutan CPO, TBS bahkan pekerjaan pemeliharaan lainnya tentu memiliki keuntungan bagi koperasi,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, saat ini operasional angkutan TBS dan CPO diduga sudah diambang kelumpuhan. Begitu juga sisa hasil keuntungan dari koperasi tidak jelas kemana rimbanya serta managemen juga tidak transparan terkait berapa yang harus diberikan dan diterima oleh para karyawan anggota koperasi.

” Hingga saat ini kami tidak mengetahui secara persis mengapa sejumlah pengurus mengundurkan diri. Namun dari informasi yang beredar di internal koperasi, mereka mundur karena sudah tidak nyaman lagi bekerja, itu semua diakibatkan managemen yang semakin semberaut dan terjadi penekanan oleh managemen kepada karyawan” cetusnya.

Sementara, mantan Manager Koperasi (HD) ketika dikonfirmasi wartawan melalui via seluler, Kamis (12/4) lalu mengatakan, saat ini dirinya sudah tidak lagi menjabat sebagai Manager dan sudah pensiun.

“Saya sudah berhenti, saya juga sudah pensiun, sudah tidak tahan bekerja seperti gitu lagi, terkait masalah koperasi silakan hubungi Fadhil.” ujarnya singkat.

Kontributor Langsa : Mustafarani

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment