Tantangan Para Ibu Pekerja Penuhi ASI Buah Hati

BERITAKITA.CO | Fase penuh tantangan dan perjuangan dihadapi para ibu saat pemberian air susu ibu (ASI). Terutama untuk ibu yang juga pekerja kantoran, rasa senang dan cemas menumpuk jadi satu.

Rasa khawatir itu mulai menggelayut di detik-detik masa cuti selama tiga bulan akan berakhir. Namun, atas nama profesionalitas kerja, para ibu harus putar otak supaya proses mengeluarkan ASI lancar di sela-sela pekerjaan yang menumpuk.

Hal ini disadari oleh Adinda T Wardhani. Perjuangan dalam memberikan ASI semakin dirasakan perempuan 32 tahun ini pada anak kedua. Dia sudah harus meninggalkan rumah berbarengan dengan anak yang pertama berangkat sekolah, dan pulang satu jam sebelum azan magrib berkumandang.

“Perjuangan (dalam memberikan ASI) itu lebih kepada disiplin. Harus bangun tengah malam dan pagi memompa ASI,” ujar Dinda.

Memberi asupan ASI bagi si kecil adalah kewajiban para ibu. Namun, pada praktik sehari-hari, itu bukan perkara mudah.

“Saya termasuk yang tidak gampang (mengeluarkan ASI). Baik di anak pertama maupun kedua. Karena bukan tipe yang cepat mengucur air susunya,” kata Dinda.

Tidak gampang mengeluarkan ASI

Ibu dari Arsa Agastya (6) dan Akhza Arkaabiyya (5 bulan) ini harus rajin-rajin memijat payudara, dan memompa menggunakan mesin supaya ASI bisa keluar.

Bahkan, akibat mititis dan kerusakan kulit nipel bagian atas yang mencapai grade empat membuat dia dihadapkan pada dua pilihan. “Either setop sama sekali tapi rasa sakit luar biasa, atau lanjut mengeluarkan ASI, tetap sakit sih, cuma harus pakai stimulasi macam-macam,” ujar istri dari Andrian S ini.

Payudara yang merengkel membuat ASI sulit keluar dengan lancar, karena pori-pori rusak dan luka parah. Semisal tetap menyusui, luka tersebut tidak akan sembuh. Akan tetapi, kalau langsung pakai pompa, itu juga tidak gampang karena payudara bagian areola masih bengkak.

“Karena enggak keluar, merengkel, mampet, dua bulan pertama perjuangannya adalah benarin luka itu tapi tetap harus memompa karena anak tetap harus makan,” kata Dinda menambahkan.

Tantangan tidak berhenti sampai di situ. Konsekuensi lain yang Dinda hadapi adalah mengatur waktu memompa ASI pada pagi hari di antara jadwal harus beres-beres keperluan anak pertama yang akan sekolah, membersihkan botol-botol ASI yang menumpuk, dan menyiapkan ASI yang harus dikeluarkan untuk dititipkan kepada bibi yang menjaga dan mengurus anak nomor dua.

“Enam tahun lalu, di kantor yang lama, jauh lebih santai dari sekarang. Dulu jam 16.00 sudah keluar. Sekarang, sampai rumah sudah jam 19.00 malam. Jadi, saya harus memenuhi jadwal memompa tujuh sampai delapan kali sehari. Kalau sudah enggak kuat, tujuh kali cukup,” kata Dinda menambahkan.

Selama di kantor, lanjut Dinda, dia memompa ASI setiap dua sampai tiga jam sekali.

[Sumber : Liputan6.com]

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment