Persekusi Terhadap Muslim di Myanmar Meningkat

Etnis Roingya yang Terpaksa Melarikan Diri. [Foto: Reuters]

BERITAKITA.CO | Sebuah laporan mengatakan, bahwa Muslim dari semua etnis yang berada di Myanmar ditolak untuk mendapatkan KTP, sementara akses ke tempat ibadah juga diblokir di beberapa tempat.

Persekusi dan penyiksaan sistematis terhadap minoritas Muslim sedang meningkat di seluruh Myanmar dan tidak hanya terjadi di negara bagian Rakhine, tapi di seluruh tempat di Myanmar, kata sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Inggris, seperti dilansir oleh Al Jazeera.

Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN) mengatakan pada hari Selasa (5/9) bahwa kekerasan dan penganiayaan terhadap Muslim Rohingya, didukung oleh pemerintah, para biksu Buddha negara tersebut dan kelompok sipil ultra-nasionalis.

“Transisi ke demokrasi telah memungkinkan prasangka mempengaruhi kebijakan pemerintahan yang baru, dan telah memperkuat sebuah narasi berbahaya yang menjadikan Muslim sebagai orang asing di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha,” kata kelompok tersebut dalam sebuah laporan.

Laporan ini berisi lebih dari 350 wawancara di lebih dari 46 kota dan desa selama periode delapan bulan sejak Maret 2016.

Pemerintah Myanmar tidak segera menanggapi laporan tersebut.

Pihak berwenang menolak dikatakan melakukan diskriminasi dan mengatakan pasukan keamanan di Rakhine memerangi kampanye yang sah melawan “teroris”.

Pasukan keamanan Myanmar dan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi telah menghadapi kecaman internasional atas penindasan terhadap kaum minoritas Rohingya baru-baru ini.

Rohingya telah dipaksa untuk hidup dengan sistem apartheid dan tanpa kewarganegaraan.

Selain Muslim Rohingya, laporan BHRN juga meneliti gambaran yang lebih luas tentang Muslim dari berbagai etnis di seluruh Myanmar, menyusul gelombang kekerasan komunal pada tahun 2012 dan 2013.

Dikatakan bahwa banyak umat Islam dari semua etnis telah ditolak untuk mendapatkan kartu identitas nasional, sementara akses ke tempat ibadah Islam telah diblokir di beberapa tempat.

Sedikitnya 21 desa di sekitar Myanmar telah menyatakan diri mereka “zona terlarang” bagi umat Islam, yang didukung oleh pihak berwenang, katanya.

Persekusi, diskriminasi dan penganiayaan yang terjadi, telah membuat banyak warga Rohingya melarikan diri dan menyebar ke beberapa negara di kawasan Asia, seperti yang digambarkan oleh Al Jazeera di bawah ini.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment