PBB Tangguhkan Bantuan Makanan untuk Rohingya

Pengungsi Rohinya yang Melarikan Diri ke Bangladesh. [Foto: Al Jazeera]

BERITAKITA.CO | Program Pangan Dunia PBB (WFP) dilaporkan telah menangguhkan bantuan makanan di Negara Bagian Rakhine di Myanmar dengan alasan keamanan, karena meningkatnya aksi kekerasan dengan korban tewas yang melonjak di kalangan Muslim Rohingya.

Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ribu warga Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh untuk menghindari pembunuhan massal yang mereka katakan sedang dilakukan oleh pasukan Myanmar.

Pejabat Myanmar menyalahkan kelompok Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) yang melakukan aksi pembakaran rumah di daerah tersebut, namun warga sipil Rohingya mengatakan bahwa sebuah kampanye pembakaran dan pembunuhan dilakukan oleh tentara Myanmar untuk memaksa mereka etnis Rohingya keluar dari negara tersebut.

“Kami berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk melanjutkan distribusi bantuan ke semua komunitas yang terkena dampak secepat mungkin, termasuk untuk orang-orang yang baru terkena dampak kerusuhan saat ini,” kata WFP dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (2/9) seperti dilansir oleh jaringan televisi Al Jazeera.

Penangguhan operasi bantuan pangan tersebut, akan berdampak pada 250.000 pengungsi internal dan “populasi paling rentan lainnya”, kata pernyataan tersebut.

Badan Pengungsi PBB UNHCR juga mencatat, dalam beberapa hari terakhir, gelombang lain dari 58.600 warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar.

Pemerintah Myanmar telah menuduh WFP berpihak pada etnis Rohingya dengan mengatakan bahwa seluruh bantuan jatuh ke tangan “pejuang” Rohingya, sementara Badan PBB tersebut menolak tuduhan yang dilontarkan oleh pemerintah Myanmar.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, pengungsi Rohingya berbicara tentang wanita-wanita mereka yang diperkosa dan rumah-rumah mereka yang dibakar hingga rata dengan tanah.

Pada hari Sabtu, pemerintah Myanmar mengatakan bahwa lebih dari 2.700 rumah telah dibakar di Rakhine.

Perlakuan kejam Myanmar yang mayoritas beragama Buddha terhadap minoritas Rohingya adalah tantangan terbesar yang dihadapi pemimpin Aung San Suu Kyi, yang dituduh oleh banyak pihak hanya berdiam diri saja saat menyaksikan kekejaman yang terjadi dihadapannya.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment