Duterte Cabut Wewenang Militer Membom Masjid di Mindanao

BERITAKITA.CO | Presiden Filipina Rodrigo Duterte mencabut kembali persetujuannya kepada militer yang memungkinkan mereka untuk membom masjid di Kota Marawi, pada hari Jum’at (1/9).

Duterte mengatakan kepada para tentara bahwa pemerintah harus sadar akan implikasi budaya dan ideologis dari pemboman masjid dalam memerangi teroris Maute di selatan.

“Kami tidak bisa menghancurkan masjid …. Ini akan membiakkan kebencian tanpa akhir,” kata sebuah jaringan berita online yang berbasis di Manila Rappler.com, mengutip ucapan Duterte dalam pidatonya, Jum’at, di markas komando Mindanao Timur di Davao City, saat umat Islam merayakan Idul Adha.

Konflik bersenjata antara pemerintah dan kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS di Kota Marawi, mendorong Presiden Duterte untuk mengumumkan sebuah undang-undang darurat selama 60 hari di Mindanao yang pada akhirnya diperpanjangan menjadi lima bulan sampai akhir tahun, 31 Desember.

Berbicara di hadapan ratusan tentara di Davao, Duterte mengungkapkan bahwa dia telah mempertimbangkan untuk mencabut undang-undang darurat militer. Namun, dengan situasi saat ini, menurut dia, mereka dengan terpaksa harus memperpanjangnya.

“Saya berpikir bahwa kita bisa mengakhiri darurat militer lebih awal. Tapi seperti yang terlihat (konflik) telah pecah hingga ke Daerah Otonom di Mindanao yang mayoritas Muslim, “tambahnya.

Rabu lalu, Duterte memberi militer wewenang untuk membebaskan Marawi dari sisa teroris yang masih menempati beberapa rumah, bangunan, dan masjid beserta sandera mereka. Kemudian, Duterte mencabut wewenang militer untuk menghancurkan atau membom masjid yang ada di sana.

Konflik bersenjata di kota Marawi memasuki hari ke 104 pada hari Sabtu, di mana pertempuran terbatas pada area yang jauh lebih kecil namun tentara mengalami kesulitan membersihkan bangunan karena bangunannya sarat dengan jebakan ranjau dan alat peledak improvisasi (IED).

Militer mengatakan tiga tentara tewas dan 52 lainnya cedera saat jebakan ranjau dan bom yang ditanam oleh para teroris meledak di lokasi yang berbeda pada malam Idul Adha di Marawi.

Lima pejuang Maute juga tewas dalam pertempuran di Jembatan Banggolo (Jembatan Bayabao).

Pihak berwenang mengatakan 617 pejuang musuh juga tewas bersama 45 warga sipil. Sebanyak 600 tentara terluka dan 300 orang masih ditahan oleh militan di masjid.

Pihak militer mengatakan bahwa saat ini mereka sedang menerapkan dorongan terakhir dalam perjuangannya melawan kelompok Maute dan Abu Sayyaf untuk “sekali dan untuk semua” menghancurkan teroris yang terkait dengan ISIS.

Bentrokan tersebut telah memaksa lebih dari 200.000 warga kota Marawi dan ribuan lainnya dari daerah-daerah terdekat mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment