Saracen, Kelompok Anti-Jokowi, atau Kelompok Pro-Jokowi?

BERITAKITA.CO | Kondisi sosial politik di rezim Joko Widodo membuka peluang tumbuhnya bisnis penyebaran kebencian di dunia maya. Bisnis yang dikenal dengan istilah e-hate ini bukanlah barang baru di Indonesia.

Pelaku bisnis e-hate mengeruk keuntungan dengan cara memprovokasi warga lewat berita-berita bohong (hoax) yang secara terus menerus diproduksi sesuai pesanan. Mereka menyebarkan konten-konten yang menyudutkan suku, agama, ras, atau pandangan politik yang berlawanan dengan si pemesan.

Indonesia, menjadi sasaran empuk pelaku-pelaku bisnis kebencian yang memiliki daya rusak sangat besar untuk persatuan dan kesatuan negara.

Di Indonesia, bisnis kebencian ini mulai terlihat nyata.  Minggu lalu, pihak kepolisian membongkar keberadaan sindikat Saracen. Polisi menangkap tiga orang pengelola Saracen. Lewat media sosial, seperti Facebook, dan twitter, Saracen menyebarkan konten berisi ujaran kebencian. Bahkan, Saracen mengelola situs berita khusus untuk memuaskan pemesan.

Saracen sendiri sebenarnya adalah istilah yang digunakan oleh orang Kristiani Eropa terutama pada Abad Pertengahan untuk merujuk kepada orang yang memeluk Agama Islam (tanpa memperdulikan ras atau sukunya)

Kata Saracen berasal dari Bahasa Yunani, yang diduga berasal dari bahasa Arab walaupun dugaan ini tidak memilik dasar yang kuat. Istilah ini pertama kali dipakai pada awal masa Romawi Kuno untuk menyebutkan sebuah suku Arab di Semenanjung Sinai. Pada masa-masa berikutnya, orang-orang Kristen Romawi memperluas penggunaan ini untuk menyebut orang Arab secara keseluruhan. Setelah berkembangnya agama Islam, terutama pada masa Perang Salib, istilah ini digunakan terhadap seluruh Muslim.

Kepolisian membenarkan, konten bermuatan SARA yang disebarkan sindikat Saracen merupakan pesanan dari pihak tertentu dengan tarif puluhan juta untuk setiap konten yang mereka produksi dan sebarkan.

Tak tanggung-tanggung, Saracen memiliki ratusan ribu akun media sosial yang siap menggerakkan konten-konten provokasi itu, sehingga berseliweran di jagat maya.

Pengamat media sosial Nukman Luthfie menyebutkan, maraknya bisnis kebencian itu tidak bisa dilepaskan dari panasnya situasi politik di Indonesia.

Nukman berpendapat selalu ada pihak yang tidak suka kepada pihak lain, bisa pemerintah, partai politik, tokoh politik, agama, hingga suku tertentu.

“Pasar itu ada, kemudian diisi oleh orang-orang yang berani supply konten-konten yang dipesan sama mereka,” kata Nukman dalam sebuah wawancara di televisi, Kamis (24/8).

Menurut Nukman para pembuat konten ujaran kebencian itu paham betul adanya peluang di pasar tersebut.

Nukman menuturkan, para pembuat konten ujaran kebencian tersebut tidak peduli terhadap latar belakang pemesan konten. Meski berbeda ideologi, agama, suku, asalkan si pemesan mampu membayar, mereka akan melayaninya.

“Tidak peduli ideologi, bisa sekarang melayani A, pada saat bersamaan bisa melayani lawan dari A,” ucapnya.

Selain itu, kata Nukman pembuat konten juga tidak memiliki kepedulian terhadap efek yang akan ditimbulkan di masyarakat.

Menurutnya, kepedulian para pembuat konten tersebut hanya pada keuntungan materi yang akan mereka peroleh setelah membuat dan menyebarkan konten ujaran kebencian sesuai dengan pesanan.

“Enggak tahu moral,” ujar Nukman.

Sejauh ini, menurut penyidikan Bareskrim Polri, pemesan konten adalah orang-orang yang dikirimi proposal oleh kelompok Saracen ini. Untuk mendapatkan pesanan, kelompok ini membuat proposal yang akan disebarkan kepada pihak-pihak tertentu.

Bareskrim Polri juga mengatakan, sejumlah organisasi kemasyarakatan dan lembaga disebut menerima dan memesan jasa ujaran kebencian kepada Saracen. Di dalam proposal tersebut telah termuat harga paket dan konten ujaran kebencian yang akan disebarkan. Jika harga disepakati, konten yang sudah disiapkan itu akan diunggah melalui akun-akun yang dimiliki Saracen.

Lantas, siapa sebenarnya pemesan ujaran kebencian ini, kelompok anti-Jokowi, atau kelompok pro-Jokowi?

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Comments

  1. Pingback: Sunny, Bekas Staf Khusus Ahok Diduga Terkait Saracen | BERITAKITA.CO

Leave a comment