Korea Utara Peringatkan Inggris Untuk Tidak Terlibat Dalam Latihan Militer

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. [Foto :KCNA/Reuters]

BERITAKITA.CO | Korea Utara memperingatkan, bahwa Inggris akan “menghadapi akhir yang menyedihkan” jika mengambil bagian dalam latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan.

Seoul dan Washington mengatakan bahwa latihan tersebut merupakan kesempatan bagi sekutu untuk memperbaiki kemampuan pertahanan mereka, namun Pyongyang secara rutin mencela mereka sebagai gladi resik untuk perang melawan Korea Utara.

Dalam sebuah pernyataan, kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, mengecam Washington dan Seoul sebagai “penghasut hangat” dan mengatakan bahwa latihan tersebut adalah bukti niat mereka untuk menyerang. KCNA juga menuduh musuh-musuhnya sebagai “maniak perang” dan “bayi yang belum matang.”

“Kenyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa ambisi AS untuk menahan DPRK [Korea Utara] tetap tidak berubah, berapa pun besarnya aliran air di bawah jembatan dan ambisi kelompok boneka untuk menyerang Korut tetap tidak berubah,” kata kantor berita tersebut.

“Kami dengan sungguh-sungguh memperingatkan tidak hanya kelompok boneka dan AS, tapi juga para negara satelit, termasuk Inggris dan Australia, yang memanfaatkan manuver perang saat ini ke utara, bahwa mereka akan menghadapi akhir yang menyedihkan jika mereka bergabung dalam permainan perang ini.”

Sementara itu, sebuah editorial di surat kabar Rodong Sinmun Korea Utara mengatakan bahwa latihan militer gabungan tersebut adalah “ekspresi permusuhan yang paling eksplisit terhadap kita, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa latihan tersebut tidak akan berkembang menjadi pertempuran yang sebenarnya.”

Ditambahkan bahwa latihan itu seperti “menuangkan bensin ke api dan memperburuk keadaan semenanjung Korea.”

Washington dan Pyongyang telah salaing menjual ancaman sejak rezim Kim Jong-un mengumumkan bahwa pihaknya sekarang mampu menyerang wilayah AS dengan sebuah rudal balistik antar benua (ICBM) yang membawa sebuah hulu ledak nuklir.

Presiden AS Donald Trump menanggapi dengan menjanjikan “api dan kemarahan”.

Inggris, sekutu terbaik Amerika, secara resmi dapat menolak permintaan Trump untuk meminta bantuan dalam melakukan perang melawan Korea Utara, selama Kim tidak menyerang Hawaii atau daratan AS.

Keanggotaan Inggris di NATO tidak secara otomatis mewajibkannya untuk berpartisipasi dalam konflik antara AS dan Korea Utara, bahkan jika Korut menyerang pangkalan militer di Pasifik.

Meskipun Pasal 5 dari Perjanjian NATO menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota NATO merupakan tindakan agresi terhadap keseluruhan aliansi militer, penerapan ketentuan ini hanya terbatas pada serangan terhadap wilayah negara-negara anggota di Amerika Utara, Eropa dan Atlantik.

Akibatnya, rudal balistik Korut menyerang pangkalan militer AS di Pasifik, AS dapat meminta bantuan Inggris, namun tidak dapat secara resmi memaksa Inggris dan sekutu NATO lainnya untuk bergabung dalam upaya militer melawan Korea Utara.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment