Pembunuhan Brutal Siswa di Filipina Memicu Kemarahan Nasional

Demo terhadap Perang Narkoba di Manila [Foto:SunStar]

BERITAKITA.CO | Pembunuhan terhadap seorang siswa berusia 17 tahun di Filipina terkait kampanya perang Presiden Duterte  terhadap Narkoba, telah memicu protes secara nasional dan memaksa diadakannya penyelidikan oleh pemerintah. Hal ini telah membuat banyak pihak di Filipina memaksa pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan terhadap perang narkoba yang telah menyebabkan sekitar 5.500 orang tewas.

Sang siswa yang diketahui bernama Kian Delos Santos, diseret dari rumahnya di Caloocan, di pinggiran kota Manila, dan diduga dibunuh oleh polisi dengan kedok perang terhadap obat bius.

Seorang saksi mata mengatakan, kata-kata terakhir Santos, memohon kepada petugas sebelum ditemukan terbaring tewas pada tanggal 16 Agustus, adalah, “Tolong berhenti. Tolong hentikan. Saya akan ujian besok.”

Sebuah laporan otopsi menunjukkan bahwa dia ditembak dua kali di kepalanya dan sekali di belakang.

Pembunuhan tersebut telah memicu protes massa di Manila dan memaksa beberapa instansi pemerintah untuk melakukan penyelidikan. Demikian dilansir oleh Guardian, Rabu (23/8).

Bahkan sang arsitek perang narkoba tersebut, presiden, Rodrigo Duterte, mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan operasi polisi setelah melihat rekaman CCTV yang menunjukkan dua orang petugas kepolisian yang menyeret siswa yang tidak berdaya di sepanjang jalan.

Rekaman Santos yang masih hidup dalam tahanan menimbulkan keraguan serius pada klaim polisi bahwa polisi menembak remaja tersebut setelah dia berusaha untuk merebut pistol petugas untuk melawan penangkapannya.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Comments

  1. Pingback: Presiden Filipina : “Bunuh Para Penjahat Narkotika Jika Melawan” | BERITAKITA.CO

Leave a comment