Korea Utara : AS Akan Membayar Mahal Kejahatannya Terhadap Kami

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un.

BERITAKITA.CO | Rezim Korea Utara yang dipimpin oleh Kim Jong-un, meluapkan kemarahannya melalui media pemerintah Korean Central News Agency (KCNA), kemarin (7/8) seperti diberitakan oleh Reuters.

Korut menolak semua sanksi-sanksi tegas yang dirumuskan Amerika Serikat (AS) dalam resolusi PBB. Korut juga mengancam akan melancarkan upaya balas dendam.

Pembalasan selalu lebih kejam. Itu pula yang Pyongyang tegaskan lewat KCNA. ”AS akan membayar mahal kejahatannya terhadap kami, ribuan kali lipat.” Demikian bunyi pernyataan tertulis Pyongyang sebagaimana diberitakan KCNA kemarin.

Menurut Jong-un dan jajaran pemerintahannya, sanksi ekonomi baru yang DK PBB terapkan atas prakarsa AS itu merupakan bentuk pelanggaran kedaulatan Korut.

Korut geram dengan sanksi baru yang diloloskan DK PBB dengan mudah dalam pemungutan suara pada Sabtu (5/8). Sanksi yang menarget sektor ekspor energi dan makanan Korut itu diperkirakan mengurangi pendapatan rezim Jong-un sampai US$ 1 miliar (sekitar Rp 13,3 triliun) per tahun.

Itu belum termasuk kerugian karena sanksi di sektor ketenagakerjaan. Namun, Korut bergeming. Pyongyang tak takut bangkrut.

”Kami tidak akan mundur selangkah pun dari program nuklir kami.” Demikian sikap pemerintahan Jong-un yang disampaikan secara tertulis kepada KCNA. Tak hanya ngotot melanjutkan ambisi nuklirnya, Korut pun menutup pintu dialog. Pyongyang menegaskan bahwa mereka tidak akan kembali ke meja perundingan untuk membahas nuklir yang mereka yakini sebagai hak mutlak Korut.

Sementara itu, melalui sambungan telepon, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korsel Moon Jae-in sepakat untuk meningkatkan tekanan terhadap Korut. ”Dua pemimpin tersebut sama-sama menganggap Korut sebagai ancaman serius bagi seluruh negara di dunia,” terang jubir Gedung Putih. Karena itu, AS dan Korsel tetap akan menjalani latihan gabungan (latgab) militer sesuai jadwal yang dirancang sebelumnya.

Akhir Agustus nanti, AS dan Korsel kembali menggelar latihan gabungan. Meski Korut menganggap latihan gabungan yang melibatkan kapal induk itu sebagai provokasi, AS dan Korsel bergeming. Bagi mereka, stabilitas pertahanan dan keamanan regional jauh lebih penting daripada tuduhan Korut.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment