“Kami Tidak Punya Kekuatan,” Kata Anggota Komisi Kejahatan Perang PBB

Carla del Ponte, Anggota Komisi Kejatahan Perang PBB di Suriah. [Foto: Martial Trezzini/AP]

BERITAKITA.CO | Seorang anggota komisi penyelidikan kejahatan perang PBB di Suriah mengatakan bahwa dia akan mengundurkan diri karena kurangnya dukungan politis dari dewan keamanan PBB, yang membuat pekerjaan itu tidak mungkin untuk dilakukan.

Carla del Ponte, 70 tahun, yang pernah menjadi Jaksa Agung Swiss, mengatakan pada sebuah diskusi panel di sela-sela festival film Locarno bahwa dia telah menyiapkan surat pengunduran dirinya, kata kantor berita nasional Swiss, SDA.

“Saya keluar dari komisi ini, karena tidak didukung oleh kemauan politik apapun,” katanya, menambahkan bahwa perannya hanyalah sebuah “alibi”. “Saya tidak memiliki kekuatan selama dewan keamanan PBB tidak melakukan apapun,” katanya. “Kami tidak berdaya, tidak ada keadilan bagi Suriah.”

Del Ponte, yang pernah menjadi jaksa penuntut dalam sidang kejahatan perang di Rwanda dan bekas Yugoslavia, bergabung dengan komisi penyelidikan kejahatan perang PBB di Suriah pada bulan September 2012, mencatat banyaknya kejahatan perang yang terjadi di Suriah, seperti serangan senjata kimia, genosida terhadap populasi Yazidi Irak, taktik pengepungan, dan pemboman konvoi bantuan.

Komisi penyelidikan PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Del Ponte telah memberi tahu rekan-rekannya di komisi tersebut pada bulan Juni tentang keputusannya untuk mundur dalam waktu dekat. Komisi tersebut juga mengatakan bahwa penyelidikan di Suriah akan tetap berlanjut.

“Adalah kewajiban kita untuk bertahan dalam pekerjaan atas nama korban korban pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan internasional terburuk yang diketahui manusia,” kata komisi tersebut.

Dengan mundurnya Del Ponte, maka komisi ini hanya menyisakan dua aggota, Paulo Pinheiro dari Brasil, dan Karen Koning Abu Zayd dari AS. Seperti dilansir oleh Guardian.

Komisi tersebut dibentuk pada bulan Agustus 2011 dan telah secara teratur melaporkan pelanggaran hak asasi manusia, namun permohonan komisi untuk mematuhi hukum internasional kepada pihak-pihak yang bertikai di Suriah, sebagian besar tidak diperdulikan.

Meskipun PBB telah membentuk badan baru untuk mempersiapkan penuntutan atas kejahatan perang di Suriah, namun tidak ada tanda-tanda dibentuknya pengadilan untuk mengadili mereka-mereka yang dianggap bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.

Keteguhan Del Ponte menjadikannya terlihat vokal dan terkadang kontroversial. Dia pernah mengejutkan Pemerintah Barat pada bulan Mei 2013 dengan menyatakan bahwa komisi penyelidikan kejahatan perang PBB memiliki “kecurigaan kuat” terhadap pemberontak Suriah yang menggunakan gas sarin.

Dua tahun kemudian, dia mengatakan bahwa keadilan akan menanti untuk Presiden Suriah Bashar al-Assad, meskipun jika dia tetap berkuasa di bawah kesepakatan damai yang dinegosiasikan.

Awal tahun ini, ketika komisi tersebut melaporkan adanya pesawat Pemerintah Suriah yang dengan sengaja melakukan pemboman terhadap sebuah konvoi kemanusiaan, Del Ponte mengisyaratkan frustrasinya dengan ketidakmampuan untuk membawa pelaku ke pengadilan.

“Apa yang kita lihat di Suriah, saya tidak pernah melihatnya di Rwanda, atau di Balkan, bekas Yugoslavia. Ini benar-benar sebuah tragedi besar, “tambahnya. “Sayangnya kita tidak memiliki pengadilan.”

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment