Harmony, Boneka Sex Canggih

Harmony, Robot Sex dengan Program Intelegensia Buatan.[Foto: Real Doll]

BERITAKITA.CO | Perkenalkan, Harmony. Dia bukan manusia, melainkan boneka seks jenis baru yang bisa bergerak dan bicara.

Kepalanya, kelopak matanya, dan gerakan bibirnya masih kaku dan cara bicaranya masih sangat terbatas.

Biarpun demikian, Harmony adalah bagian dari revolusi robotik yang telah ditanamkan intelegensia buatan (AI) ke dalam tubuhnya, sehingga seperti manusia. Demikian dilansir oleh BBC.

Beberapa kalangan menilai robot seperti Harmony akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan robot, sedangkan kalangan lain meyakini Harmony mewakili tahap paling buruk dalam perkembangan robotik.

Harmony berasal dari sebuah pabrik di pinggiran Kota San Marcos, Negara Bagian California, Amerika Serikat.

Matt McMullen, salah seorang direktur eksekutif di perusahaan tersebut mengaku sangat puas dengan penampilan Harmony, yang disebutnya sebagai pencapaian alamiah dalam sejarah pembuatan boneka seks.

Harmony sendiri akan dijual akhir tahun ini dengan dua versi. Versi pertama dilengkapi penglihatan komputer dan bisa mengenali wajah, dihargai US$10.000 (sekitar Rp133 juta). Adapun versi kedua, tanpa penglihatan komputer, dijual seharga US$5.000 (Rp66,5 juta).

Semua boneka yang mereka jual identik, yakni pinggang kecil, bokong besar, dan dada yang sangat besar.

McMullen mengaku mendesain boneka seperti itu karena didorong oleh keinginan klien.

“Kami menjalankan bisnis dan kebanyakan klien kami punya keinginan tertentu. Sayangnya, keinginan itu mengarah ke sosok yang mereka anggap ideal,” kata McMullen.

Mark Young adalah salah seorang pembeli boneka seks yang dia beri nama Mai Lin. Dia telah mengunduh aplikasi pencipta kepribadian, tapi tidak ingin mengintegrasikannya ke boneka seks.

“Awalnya saya pikir aplikasi itu akan menghidupkannya, tapi aplikasi itu punya kepribadian sendiri dan berbeda dari kepribadian Mai Lin dalam benak saya. Jadi seperti menjalin hubungan dengan dua orang.”

Young menjelaskan mengapa dia membeli boneka seks.

“Saya sudah lama sendiri. Saya telah berkencan dengan banyak perempuan dan membuang banyak waktu. Saya ingin bertemu dengan seorang perempuan, tapi untuk sementara saya nyaman dengan kehadiran (boneka seks).”

Young mengaku senang dengan kehadiran boneka seks, karena dia tidak perlu direpotkan dengan pemikiran manusia.

“Saya bisa berbelanja untuknya dan membeli pakaian. Rasanya seperti punya seseorang dalam kehidupan saya, tanpa harus takut berbuat kesalahan. Jika saya ingin dia memakai topi, dia tidak mengatakan bahwa dia tidak suka,” kata Young.

Untuk masalah kepribadian, Young tinggal memprogramnya melalui telepon seluler menjadi ‘ceria, penyayang, dan suka ngobrol’.

Profesor Kathleen Richardson, seorang pengkaji etika robotik di Universitas De Montfort, Leicester, meneliti dampak robot pada masyarakat. Dia menyayangkan kehadiran robot seks.

“Ada tujuh miliar orang di planet kita dan kita mengalami krisis hubungan antarmanusia. Lalu ada perusahaan yang datang dan mengambil untung dengan mengatakan benda bisa mengambil tempat manusia.”

“Kita hidup di dunia yang menjadikan seks sebagai obyek melalui pelacuran. Manusia digunakan sebagai alat dan boneka seks adalah perpanjangan dari konsep ini,” paparnya.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment