Mengenal Brigade al-Qassam, Pasukan Elite Palestina

Brigade al-Qassam, Pasukan Elite Palestina

BERITAKITA. CO | Brigade Izz ad-Din al-Qassam, atau sering disingkat menjadi Brigade al-Qassam adalah sayap militer dari organisasi Hamas Palestina.

Kelompok militer ini dinamai Izz ad-Din al-Qassam, berdasarkan nama seorang ulama pendakwah Muslim terkenal di Palestina. Pada tahun 1930an,  al-Qassam adalah orang pertama yang mengatur dan mendirikan “Tangan Hitam”, sebuah organisasi militan anti-Zionis dan anti-Inggris pada saat itu. Beliau akhirnya mati sahid di kota Jenin pada tahun 1935.

Berdirinya Al-Qassam sendiri, dipelopori oleh para pejuang Palestina seperti Sheikh Ahmad Yassin, Dr. Ibrahim Al-Maqadema dan Sheikh Salah Shehada pada tahun 1984.

Tujuan dari pendirian Al -Qassam adalah untuk berkontribusi dalam upaya membebaskan tanah Palestina dan memulihkan hak-hak rakyat Palestina dari pendudukan zionis Israel, di bawah ajaran kitab suci Alquran, Sunnah Nabi Muhammad SAW dan tradisi penguasa Muslim.

Pada pertengahan tahun 1991 Brigade al-Qassam resmi menjadi sayap militer Hamas, berkaitan dengan pemblokiran kesepakatan Persetujuan Oslo antara Israel dan Palestina. Sejak tahun 1994 sampai 2000, Brigade al-Qassam telah melakukan sejumlah serangan terhadap orang-orang dan militer Israel.

Pemimpin Politik Senior Hamas Ismail Haniyeh(kiri) dan Pemimpin baru Hammas Yahya Sinwar (tengah)

Sejak saat itu, Brigade al-Qassam merupakan bagian integral Hamas. Sementara mereka berada di bawah komando politik Hamas yang lebih luas tujuan ideologisnya, mereka juga memiliki tingkat independensi yang signifikan dalam pengambilan keputusan.

Pada tahun 1997, ilmuwan politik dan juga peneliti yang menulis buku “The Deadly Embrace : The Impact of Israeli and Palestinian Rejectionism on the Peace Process” Ilana Kass dan Bard O’Neill menggambarkan hubungan Hamas dengan Brigade al Qassam, mengingatkan kita pada hubungan Sinn Féin dengan  Tentara Republik Irlandia (IRA) saat konflik antara Irlandia dengan Inggris.

Mereka mengutip dari seorang pejabat senior Hamas yang pernah mengatakan: “Brigade Izz al-Din al-Qassam adalah sayap militer bersenjata yang terpisah, yang memiliki pemimpin sendiri yang tidak menerima perintah mereka (dari Hamas) dan tidak memberi tahu kami rencana mereka terlebih dahulu.”

Menurut analoginya, Kass dan O’Neill menyatakan bahwa pemisahan sayap politik dan militer akan melindungi pemimpin politik Hamas dari tanggung jawab atas terorisme. Sementara penyangkalan yang masuk akal ini membuat Hamas menjadi perwakilan yang memenuhi syarat untuk perundingan damai seperti yang terjadi dengan pemimpin Sinn Féin di Irlandia, Gerry Adams.

Pada awal Intifadah kedua, kelompok militer ini menjadi target utama semua operasi militer Israel. Tapi kekuatan dan kemampuan  kelompok ini untuk bertahan dan melakukan serangan yang bersifat kompleks serta mematikan telah mengejutkan banyak pengamat militer dunia.

Tidak hanya di Gaza, Brigade al-Qassam juga mengoperasikan beberapa sel di Tepi Barat yang dikuasai kelompok Fatah. Namun sebagian besar sel-sel mereka berhasil dihancurkan pada tahun 2004 setelah Israel melakukan banyak operasi militer di wilayah tersebut. Sebaliknya, Hamas semakin mempertahankan kehadiran di Jalur Gaza, yang dianggap sebagai bentengnya.

Pasca perlawanan sengit terhadap operasi militer dari Israel, dengan strategi dan propaganda zionis, Brigade al-Qassam dianggap sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa, Amerika Serikat,  Australia, Selandia Baru, Inggris dan Mesir.

Identitas anggota dan posisi pejuang di kelompok tersebut sering tetap dirahasiakan sampai kematian mereka; Bahkan ketika mereka berperang melawan Israel, semua militan mengenakan penutup kepala warna hitam khas dengan ikat kepala berwarna hijau yang menjadi ciri khas kelompok tersebut.

Brigade al-Qassam beroperasi berdasarkan model sel independen dan bahkan anggota berpangkat tinggi seringkali tidak menyadari aktivitas sel-sel lain. Hal ini memungkinkan kelompok ini untuk secara konsisten beregenerasi setelah kematian anggotanya.

Selama intifada, para pemimpin kelompok tersebut menjadi sasaran utama dari berbagai serangan udara Israel yang menewaskan banyak anggota, termasuk Salah Shahade dan Adnan al-Ghoul. Pemimpin brigade saat ini, Mohammed Deif, tetap bertahan dan dikatakan telah bertahan setidaknya dalam lima kali upaya pembunuhan.

Pada tahun 2003 dan 2004, Brigade al-Qassam mampu menahan serangan dari pasukan pertahanan Israel (IDF), termasuk pengepungan di Jabalya (sebelah utara Gaza) pada bulan Oktober 2004. Namun, pertempuran ini membawa banyak korban di kalangan Brigade al-Qassam, yang menderita kerugian sangat besar kala itu.

Hebatnya, brigade ini mampu mendapatkan kekuatannya kembali dan tetap bisa melakukan serangan di tahun-tahun berikutnya. Brigade ini dapat mengandalkan hasrat para pemuda Palestina yang bersedia bergabung dengan mereka, menyelundupkan persediaan dan memberi para pejuang senjata buatan mereka sendiri seperti al-Bana, Batar, roket Yasin dan Qassam.

Pada awal tahun 2005, Brigade al-Qassam menyetujui sebuah gencatan senjata yang dinegosiasikan antara pemerintah Israel dan Otoritas Palestina. Namun brigade ini memanfaatkan gencatan senjata untuk memperkuat barisannya.

Halaman Berikutnya>>

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment