Kekuatan Politik China VS Melayu Pada Pemilu di Malaysia

Mahathir Mohamad yang Menjadi Pimpinan Koalisi Partai Oposisi Malaysia [Foto:Malaysia Today]

BERITAKITA.CO | Lim Kit Siang yang merupakan tokoh oposisi Malaysia dari Partai Aksi Demokratis (DAP) mengatakan, pemilihan umum berikutnya adalah tentang demokrasi versus kleptokrasi.(Istilah yang mengacu kepada sebuah bentuk pemerintahan yang mengambil uang pajak yang berasal dari publik / rakyat untuk memperkaya kelompok tertentu atau diri sendiri. Sebuah sindiran bagi pemerintahan Najib Razak saat ini).

Jika benar, maka dia dan Pakatan Harapan (gabungan partai-partai oposisi di Malaysia yang dipimpin oleh Mahathir Mohamad) tidak akan menyentuh Tun Dr Mahathir Mohamad walaupun Mahathirlah yang membuat kleptokrasi menjadi bentuk seni dan dia yang membunuh demokrasi dan mengatakan demokrasi tidak dapat berjalan di Malaysia sementara hanya ‘demokrasi terpimpin’ yang bisa.

Pemilihan umum berikutnya sebenarnya adalah perseteruan antara DAP versus UMNO. Ini tentang Pakatan Harapan yang dipimpin oleh DAP versus Barisan Nasional yang dipimpin UMNO. Ini tentang kekuatan politik China versus kekuatan politik Melayu.

Para pengamat politik di Malaysia mengatakan bahwa UMNO sendiri tidak dapat membentuk pemerintahan federal tanpa membentuk koalisi. Mereka mengatakan dalam pemilu nanti, UMNO kemungkinan hanya bisa mendapatkan antara 90 sampai 100 kursi di parlemen. Mereka minimal harus mendapatkan 112 kursi (dari total 222 kursi parlemen yang diperebutkan) untuk dapat mempertahankan posisi pemerintahan di Putrajaya. Oleh karena itu, Umno membutuhkan dukungan suara dari teman-temannya di Barisan Nasional untuk dapat mempertahankan kekuasaan atas pemerintahan federal.

Dan itulah yang menjadi dasar mengapa Partai Perikatan yang merupakan Partai Aliansi antara UMNO (United Malays National Organisation), MCA (Malaysian Chinese Association) dan MIC (Malaysian Indian Congress) dibentuk untuk menghadapi pemilihan 1955 dan kemudian berubah menjadi Barisan Nasional pada tahun 1973 untuk menghadapi pemilihan umum 1974.

UMNO sadar, dengan kekuatan sendiri mereka tidak mungkin dapat membentuk pemerintahan federal dan membutuhkan koalisi dengan partai lain untuk tetap berkuasa.

Hal yang sama juga berlaku untuk Pakatan Harapan. Pakatan Harapan perlu menjadi cerminan citra Barisan Nasional namun dengan satu perbedaan. Dan perbedaan itu adalah: UMNO adalah partai utama di Barisan Nasional sedangkan DAP adalah partai utama di Pakatan Harapan.

UMNO yang menjadi parti utama di Barisan Nasional adalah perwakilan dari orang Melayu yang ada di Malaysia. Sedangkan DAP adalah perwakilan dari orang China di Malaysia, sehingga membuat Pakatan Harapan merasa berat untuk bersaing secara terbuka dengan UMNO.

Itulah sebabnya DAP mencoba menyembunyikan dominasi China dalam jajaran kepemimpinan Pakatan Harapan dengan menciptakan kesan bahwa jajaran kepemimpinan Pakatan Harapan adalah orang Melayu asli.

Tapi itu justru membuatnya jadi bumerang, karena hal ini memberi kesan Pakatan Harapan dianggap oleh warga Malaysia sebagai Pakatan Ali Baba (Istilah yang menggambarkan satu pakatan perniagaan yang tidak seimbang di mana satu pihak banyak mendapatkan keuntungan sedangkan pihak yang memiliki kepakaran, pengalaman dan modal perniagaan).

Mereka seharusnya membiarkan hal ini apa adanya tanpa mencoba menyembunyikan dominasi China di Pakatan Harapan. Pada akhirnya kamuflase ini membuktikan bahwa Pakatan Harapan adalah Pakatan Ali Baba, karena apa yang paling dibenci oleh orang Melayu selain daripada dominasi orang China adalah pengaturan Ali Baba.

Orang-orang Melayu yang bergabung dengan koalisi Pakatan Harapan ini, cenderung dipandang rendah oleh masyarakat Melayu walaupun mereka mendapat sanjungan dari warga China, khususnya dari DAP.

Tentu saja, Mahathir yang menjadi pimpinan dari Pakatan Harapan mencoba menyembunyikan fakta ini dengan mengatakan DAP tidak mengendalikan Pakatan Harapan. Itu adalah argumen konyol karena partai dengan jumlah paling banyak kursi  di Pakatan Harapan adalah DAP.

Mahathir bahkan menyebut dirinya ‘Top Dog’ di Pakatan Harapan. Top dog atau running dog tidak masalah bagi warga Malaysia. Dulu, Sultan Musa Ghiatuddin Riayat Shah adalah “Top Dog” di Selangor pada tahun 1941. Namun pada tahun 1945, setelah Jepang kalah perang dan Inggris kembali ke Malaya, rakyat menggulingkan Sultan Musa dan mengasingkan dia di sebuah pulau di Samudera Hindia.

Menjadi top dog, seperti Mahathir atau seperti Sultan Musa, adalah satu hal tapi kekuatan untuk mempekerjakan dan memecat terletak pada tangan orang lain. Dulu, Sultan Musa adalah seorang boneka Inggris dan  sekarang  Mahathir adalah boneka DAP. 

Anda hanya bisa menjadi top dog jika tuan Anda mengizinkannya begitu, dan Mahathir adalah boneka Lim Kit Siang.

Artikel dari Malaysia Today ini mengingatkan kita pada peta perpolitikan Indonesia pada pemilu lalu dengan hadirnya dua kubu kekuatan politik, yaitu Koalisi Indonesia Hebat (KIH)  versus Koalisi Merah Putih (KMP).

Editor : Redaksi 2

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment