Kamera Pengintai di Masjid Al Aqsha Lebih Berbahaya dari Detektor Logam

Bentrok warga Palestina dengan polisi Israel terkait kamera pengintai di MAsjid Al Aqsha,[Foto: Reuters]

BERITAKITA.CO | Opini : Oleh Zena Tahhan.

Warga Palestina telah bersumpah untuk terus melakukan demonstrasi dan konfrontasi dengan pasukan Israel di Yerusalem Timur dan menolak pemasangan kamera pengintai baru di gerbang masjid Al Aqsha.

“Di atas segalanya, ini adalah masalah kontrol dan kekuasaan. Mereka akan mengambil tindakan sendiri dan memantau orang-orang Palestina melalui kamera, ” kata Mohammad Abu al-Hommos, seorang aktivis Palestina di Kota Tua Yerusalem, kepada Al Jazeera.

“Saya ingin masuk dan keluar dari al-Aqsha semau saya – siapa mereka yang ingin mengintai saya?” dia menambahkan. “Saya memasuki rumah ibadah, ini melanggar ruang pribadi individu, orang-orang Palestina akan terus menolak karena kami menolak tindakan ini, adalah hak kami untuk menolak.” sambungnya.

Dalam sebuah pertemuan kabinet keamanan Senin malam, sebuah pernyataan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkonfirmasi bahwa kabinet “menerima rekomendasi dari semua badan keamanan untuk memasukkan tindakan pengamanan berdasarkan teknologi maju  dan tindakan lainnya, bukan detektor logam” .

Israel mengatakan “rencana” tersebut akan dilaksanakan dalam enam bulan ke depan, dengan anggaran 100 juta shekel ($ 28 juta). Beberapa alternatif yang diusulkan untuk pengganti detektor logam adalah kamera dengan sistem termal yang dapat mendeteksi senjata dan fitur pengenal wajah.

Meskipun  detektor logam sudah dipindahkan, namun para ahli dan pengacara mengatakan bahwa kamera tersebut merupakan ancaman yang lebih besar lagi bagi orang-orang Palestina, yang menghadirkan pelanggaran lain terhadap hukum internasional.

“Kamera-kamera ini akan dapat mendeteksi wajah dan identitas, ini berarti bahwa Israel memberlakukan kontrol penuh atas wilayah al-Haram al-Sharif. Peran Yordania telah dikesampingkan dan kehadiran penjaga Palestina menjadi tidak sah, karena pemain sesungguhnya adalah orang-orang di balik layar menonton kamera,” kata Khalil Shaheen, seorang analis politik Ramallah, kepada Al Jazeera.

“Ada sejumlah besar orang Palestina yang menolak membayar pajak Israel di Yerusalem, dan banyak warga dari Tepi Barat yang memasuki Yerusalem pada hari Jumat tanpa izin [ilegal menurut hukum Israel], untuk melaksanakan shalat Jum’at serta aktivis dan lainnya. Bagi Israel, mengetahui siapa orang-orang ini bisa membahayakan warga Palestina, “tambahnya. “Ini adalah bentuk pengawasan dan kontrol baru, sewajarnya  orang-orang Palestina harus menolak tindakan tersebut, karena kamera ini lebih berbahaya daripada detektor logam.” ujar Shaheen.

Selama lebih dari seminggu, warga Palestina menolak memasuki kompleks Masjid Al Aqsha dan terpaksa shalat di luar, setelah detektor logam dipasang menyusul serangan pada 14 Juli yang menewaskan dua petugas kepolisian Israel.

Serangan yang dilakukan oleh tiga warga Palestina Israel yang ditembak mati, muncul dalam konteks apa yang disebut sebagai “Intifadah Yerusalem”, yang dimulai sejak bulan Oktober 2015.

Sejak “Intifadah Yerusalem” dimulai, sekitar 285 orang Palestina telah meninggal dunia. Dalam dugaan serangan, demonstrasi dan penggerebekan. Bersamaan dengan itu, 47 orang Israel telah terbunuh oleh orang-orang Palestina.

Pemasangan detektor logam menyebabkan perlawanan sipil dan memicu protes oleh orang-orang Palestina, yang melihat langkah-langkah baru tersebut sebagai upaya Israel untuk menerapkan kontrol lebih lanjut terhadap tempat suci Muslim itu.

Israel, yang secara ilegal mencaplok Yerusalem Timur pada tahun 1967, memberlakukan kontrol di seluruh Kota Tua itu melalui kehadiran pasukannya dan lebih dari 400 kamera yang berjejer di lorong-lorong situs Warisan Dunia yang diakui oleh UNESCO sebagai milik Palestina. Rencana untuk memasang kamera serupa di gerbang ke Al Aqsha telah dilayangkan oleh pemerintah Israel selama bertahun-tahun, namun ditolak oleh para pemimpin Palestina dan penduduk setempat.

Usama Halabi, seorang pengacara dan penulis praktik pengawasan Israel, mengatakan bahwa pengawasan terhadap warga Palestina sudah menjadi status quo di Kota Tua.

“Saya tidak mengerti masalah seputar kamera. Ini jelas merupakan intensifikasi pengintaian melalui kamera yang lebih maju secara teknis, tapi mereka sudah bisa melihat siapa yang masuk dan keluar dari Al Aqsha dan Kota Tua,” kata Halabi kepada Al Jazeera.

“Kamera akan masuk ke sistem komputer mereka dan mereka bisa mengetahui semuanya tentang saya. Mereka bisa mengekstrak seluruh keluarga saya dalam beberapa menit,” tambahnya. “Setiap hari, saya melihat puluhan pemuda Palestina yang mereka tangkap setelah melihat mereka di kamera pengintai, dan menuduh mereka melemparkan batu dan mereka memberikan bukti video. Beberapa tentara dan penjaga Di Kota Tua juga dilengkapi dengan kamera di tutup kepala mereka, dan setiap kelompok tentara yang ditempatkan di Kota Tua memiliki kamera genggam untuk mengkonversikan konfrontasi. ” lanjut Halabi.

Namun, bagi orang-orang Palestina, masalah memasang kamera di pintu masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsha adalah manifestasi lain dari kontrol Israel atas tempat suci tersebut.

Menyetujui tindakan baru tersebut berarti menyetujui kontrol Israel atas al-Haram al-Sharif dan orang-orang Palestina. Yang sebenarnya terjadi saat ini adalah, Israel sedang menempelkan jari-jarinya ke mata dan tenggorokan orang-orang Palestina, dan kita harus menolaknya.

Sudah saatnya bagi seluruh warga Palestina dan umat Muslim dunia untuk menunjukkan perlawanan terhadap kebijakan zionis Israel atas Masjid Al Aqsha.

Editor : Redaksi 2

*Zena Tahhan adalah jurnalis freelance online yang berbasis di Yerusalem dan produser untuk Al Jazeera berbahasa Inggris.

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment