Sekjen PBB Mengutuk Pembunuhan Warga Palestina Oleh Israel

Sekjen PBB Antonio Guterres Mengutuk Tindakan Israel. [Foto: Times of Israel]

BERITAKITA.CO | Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan bahwa dia “sangat menyesalkan” pembunuhan tiga orang Palestina, yang salah satunya ditembak oleh seorang pemukim Yahudi, karena meningkatnya kemarahan warga Palestina akibat pembatasan Israel Masjid al-Aqsa di Yerusalem.

Guterres mengutuk pembunuhan tersebut dan menyerukan penyelidikan pada Sabtu (22/7), beberapa jam setelah demonstrasi massa oleh orang-orang Palestina di sekitar lokasi suci tersebut berubah menjadi pembantaian.

Dia mendesak para pemimpin Israel dan Palestina untuk menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan tensi di Yerusalem, dengan mengatakan bahwa situs keagamaan harus menjadi ruang untuk refleksi, bukan kekerasan.

Mengutip pernyataan Guterres, juru bicara  PBB Farhan Haq mengatakan bahwa organisasi tersebut memahami “masalah keamanan yang sah, namun di sisi lain penting bahwa status quo di lokasi tetap dipertahankan”. Demikian seperti dilaporkan oleh stasiun TV Al Jazeera.

Pasukan keamanan Israel dengan cara represif  membubarkan demonstrasi warga Palestina pada hari Jum’at kemarin. Polisi Israel menembakan amunisi, gas air mata dan peluru karet pada kerumunan orang-orang Palestina yang melakukan demonstrasi menentang tindakan Israel, yang mencakup pembatasan di mana laki-laki Muslim di bawah usia 50 tahun dilarang mendatangi kompleks Masjid Al Aqsha dan pemasangan instalasi detektor logam di area Masjid suci tersebut.

Israel memperketat cengkeramannya di kompleks Masjid tersebut pada 14 Juli lalu setelah dua petugas keamanan Israel tewas dalam serangan yang diduga dilakukan oleh tiga warga Palestina, yang dibunuh oleh polisi Israel setelah terjadi kekerasan.

Dalam insiden fatal pertama seminggu kemudian, seorang pemukim Yahudi membunuh Muhammad Mahmoud Sharaf berusia 18 tahun di kawasan Ras al-Amud di Yerusalem Timur yang diduduki Israel.

Seorang warga Palestina lainnya berusia 20 tahun, Muhamad Hasan Abu Ghanam, terbunuh oleh tembakan langsung selama demonstrasi di Yerusalem.

Dan pasukan Israel membunuh korban ketiga, Muhamad Mahmoud Khalaf, 17 tahun, dalam bentrokan di Tepi Barat.

Menurut Bulan Sabit Merah, ada 450 orang yang terluka oleh pasukan Israel selama demonstrasi di Yerusalem dan Tepi Barat, dengan setidaknya 215 luka-luka yang disebabkan oleh serangan gas air mata.

Pihak kepolisian Israel mengatakan seorang penyerang Palestina juga membunuh tiga orang Israel di sebuah pemukiman di Tepi Barat.

Sebuah sumber di Palestina mengatakan bahwa setidaknya 21 orang Palestina ditangkap pada demonstrasi hari Jum’at di Tepi Barat, termasuk setidaknya 10 dari Yerusalem.

Media Israel melaporkan bahwa empat petugas polisi Israel terluka dalam demonstrasi tersebut setelah orang-orang Palestina melemparkan batu dan suar ke arah mereka.

Beberapa negara telah mengecam kontrol Israel yang meningkat di Masjid Al Aqsha, termasuk Turki, Mesir, Qatar, Arab Saudi dan Lebanon.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Jum’at malam, kementerian luar negeri Mesir meminta pemerintah Israel bersikap rasional dan tidak “membiarkan situasi masuk ke rawa berbahaya” yang membahayakan upaya untuk menghidupkan kembali perundingan perdamaian.

Pernyataan tersebut mengutuk Israel atas kematian warga sipil dan apa yang digambarkannya sebagai “penggunaan kekuatan yang berlebihan”.

Mesir memperingatkan bahwa Israel berada dalam bahaya “memicu ketegangan di antara orang-orang Palestina dan seluruh negara Muslim” dengan membatasi kebebasan beragama.

Emir Qatar Tamim bin Hamad, saat membuat pidato publik mengenai krisis Teluk, menyerukan adanya persatuan.

“Saya tidak bisa mengakhiri pidato ini tanpa mengungkapkan solidaritas dengan orang-orang Palestina persaudaraan, terutama rakyat kita di Al Quds [Yerusalem], dan mencela penutupan Masjid al-Aqsa,” katanya.

“[Saya harap] bahwa apa yang terjadi di Al Quds dapat menjadi insentif bagi kesatuan dan solidaritas, bukan perpecahan.”

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan penghentian semua kontak dengan Israel “sampai ia membatalkan tindakannya di Masjid al-Aqsha dan mempertahankan status quo”.

Harry Fawcett dari Al Jazeera mengatakan, “ini berarti mengakhiri kerja sama keamanan antara pasukan keamanan Palestina dan Israel.”

Namun pernyataan Abbas bisa memicu “kebuntuan yang bahkan lebih sulit dijembatani dalam jangka pendek”, kata Fawcett.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment