Zionis Israel Melarang Warga Palestina Shalat Jum’at di Masjid Al Aqsha

Aparat Keamanan Israel Menjaga Ketat Kompleks Masjid Al Aqsha. [Foto: Al Jazeera]

BERITAKITA.CO | Sejumlah LSM di Turki berencana untuk memprotes pelarangan Israel terhadap warga Palestina untuk melaksanakan shalat Jum’at di masjid Al-Aqsa.

Pelarangan yang dilakukan Israel, telah mendapat kecaman dan protes di Turki, terutama di Istanbul dan Ankara. Protes dan demo dilakukan setelah shalat Jum’at (21/7) dan protes ini diperkirakan akan berlanjut Sabtu, seperti dilaporkan oleh media-media di Turki.

Di kota kedua tersebut, İHH, sebuah Yayasan Bantuan Kemanusiaan, mengadakan pertemuan yang akan dihadiri oleh 50 akademisi dan tokoh agama serta akan membacakan sebuah pernyataan sikap.

Di Ankara, sebuah kelompok berencana untuk berkumpul di Masjid Hacı Bayram Veli untuk melakukan demonstrasi. Protes dan demo besar-besaran juga direncanakan di provinsi lain, termasuk Antalya, Diyarbakır dan İzmir.

Presiden Recep Tayyip Erdogan telah berbicara via sambungan telepon dengan Mahmoud Abbas pada hari Kamis (20/7), menyusul meningkatnya  ketegangan di Yerusalem antara orang-orang Palestina dan Israel.

“Setiap pelarangan terhadap Muslim yang memasuki Masjid Al-Aqsa tidak dapat diterima,” kata Erdogan kepada mitranya dari Palestina.

Erdogan kemudian menghubungi Presiden Israel Reuven Rivlin dan menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban  nyawa di tengah bentrokan antara kedua pihak tersebut.

Pihak berwenang Israel menutup kompleks masjid Al-Aqsa dan membatalkan sholat Jum’at untuk pertama kalinya dalam hampir lima dasawarsa, menyusul baku tembak pekan lalu yang menewaskan tiga orang Palestina dan dua polisi Israel di dekat tempat suci di Yerusalem Timur.

Langkah-langkah keamanan baru telah menyebabkan gelombang kemarahan di kalangan orang-orang Palestina, yang meminta segera dilakukan pemindahan detektor logam yang sengaja dipasang oleh pihak Israel.

Israel berupaya membenarkan langkah kontroversial tersebut, dengan mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan tidak berbeda dengan tindakan pengamanan di tempat-tempat suci lainnya di seluruh dunia.

Israel menduduki Yerusalem Timur selama Perang Timur Tengah 1967, kemudian mencaplok kota tersebut pada tahun 1980, mengklaim bahwa seluruh Yerusalem sebagai ibukota “abadi” negara Yahudi. Sebuah langkah kontroversial yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional dan juga PBB.

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment