Seorang Mahasiswi Meninggal di Kamar Kos

BERITAKITA. CO | Seorang mahasiswi ITB Sartika Tio Silalahi (21 tahun) ditemukan meninggal di kamar kosnya, di Jl. Plesiran, Taman Sari, Bandung, Selasa (11/7). Ia diperkirakan sudah meninggal tiga hari, karena mayatnya sudah berbau.

Sartika berasal dari Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Ia adalah alumni berprestasi dari SMAN 1 Tarutung, angkatan 2013, sehingga bisa diterima di ITB. Ia mengambil program studi Perencanaan Wilayah dan Kota.

Awal ketahuan Sartika meninggal setelah orangtuanya menghubungi pengurus rumah kos, karena sudah tiga hari anaknya tidak ada kabar berita. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Pengurus kos lalu meminta teman-teman kosnya, melalui chat grup, agar memerika kamar Sartika.

Sartika ditemukan sudah tak bernyawa di dalam kamarnya. Kamar dalam keadaan rapi. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Berdasarkan informasi dari keluarga, Sartika diketahui mengidap penyakit maag kronis.

Jenazah Sartika saat ini sudah dibawa pulang dan dimakamkan di Tarutung. Tapi ada hal yang perlu diketahui dan direnungkan secara serius dari peristiwa ini, terutama oleh orangtua atau keluarga yang anak-anaknya hidup kos di kota.

Suasana dan gaya hidup di tempat kos saat ini sudah sangat berbedadengan gaya hidup kos yang kita kenal ditahun 1980 atau 1990-an. Dulu, hidup satu kos itu seperti keluarga. Saling memperhatikan, saling berbagi makan, merasa senasib dan saling tolong. Jika ada satu anggota kos yang sakit, bisa-bisa yang mengantar berobat ada 5 atau 6 orang.

Sekarang ini, gaya hidup di tempat kos, terutama di tempat-tempat kos bagus di kota-kota besar, cenderung sudah bersifat individualis. Orang hidup sendiri-sendiri dan masing-masing hidup di kamar, berteman dengan gadget dan internetnya. Mereka merasa tidak enak untuk  mencampuri urusan, atau mengganggu teman kos yang lain.

Lihatlah peristiwa yang menimpa Sartika ini. Kalau orangtuanya tidak menelepon pengurus kos, tentu sang pengurus kos tidak tahu apa yang terjadi. Itu pun, pengurus kos tidak langsung datang. Ia menghubungi penghuni kos lain lewat chat LINE, agar mencek kamar Sartika. Aneh sekali rasanya, teman-teman kosnya itu sama sekali tidak memperhatikan Sartika yang  sudah tidak kelihatan selama 3 hari.

Mahasiswa, anak-anak muda yang hidup kos di kota, sebenarnya telah kehilangan sesuatu. Kehilangan suasana dan perhatian keluarga. Ada rasa sepi, tidak bisa berbicara, atau curhat kepada keluarga.

Karena itu, ketika berada di rantau, sebenarnya justru sangat butuh teman, sahabat, dan lingkungan yang bisa mengisi kekosongan itu. Logisnya, teman-teman koslah yang mengisi kekosongan itu. Jangan lupa, di kampus sendiri si anak juga mungkin memiliki persoalan-persoalan yang menguras pikiran.

Seorang teman dari daerah cerita ke saya, ketika mengunjungi putrinya yang kuliah di UI, merasa heran setelah tinggal di Depok wajah putrinya terlihat tua dan lelah. Putrinya itu sempat kuliah setahun di Bandung, dan katanya kelihatan happy-happy saja. Di Depok, putrinya tinggal di sebuah rumah kos besar, berlantai 3, mirip sebuah hotel.

Saya menduga, putrinya kehilangan suasana kehidupan sosial karena kehidupan kos yang individualis seperti cerita di atas. Belakangan si putri mengaku agak stress karena mengalami persoalan dengan kuliah. Ia merasa dosen seperti memusuhinya. Tidak pernah dapat nilai bagus, meski sudah berusaha setengah mati dan merasa bisa.

Satu hal, suasana individualis ini juga yang kemudian sering melahirkan kondisi lain yang tak kalah buruk. Karena butuh teman, umumnya anak muda mencari pacar. Hubungan dengan pacar bisa jadi kelewat batas, karena tetangga kos tidak peduli apa yang dilakukan teman-teman kos di kamarnya. Pengurus kos juga tidak peduli, asalkan bayaran lancar.

Itu yang saya bilang, perlu mendapat perhatian dari para orangtua. Perlu juga ikut mencari tempat kos buat putra-putrinya. Suasana rumah kosnya seperti apa. Pemilik rumah kos seperti apa. Kira-kira temannya bisa bergaul dengan siapa. Apakah ada teman satu daerah, satu marga, anak kenalan dan sebagainya.

Maaf, orangtua juga sering sama egois. Dia merasa punya uang, mencari tempat kos yang mahal, yang fasilitasnya lengkap, agar orang melihat anaknya itu anak orang mampu, tidak butuh orang lain. Jangan macam-macam sama anakku. Kurang lebih, begitu. Tanpa sadar, itu sebenarnya menjerumuskan si anak pada pola hidup individualis yang dalam, meski hidupnya terlihat enak. Sungguh ironis.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment