Turki Siap Mengeluarkan $ 2,5 Milyar untuk Sistem Pertahanan S-400 Rusia

Sistem Pertahanan Udara Anti Rudal S-400 [Foto : Grigoriy Sisoev / Sputnik]

BERITAKITA.CO | Ankara dan Moskow dilaporkan telah menyetujui pembelian sistem rudal anti-rudal Rusia S-400 seperti yang dilaporkan oleh Bloomberg. Kesepakatan tersebut diduga mencakup pengiriman dua baterai sistem anti rudal tersebut ke Turki dan juga transfer teknologi.

Kedua belah pihak yang telah bernegosiasi sejak November 2016, sebelum akhirnya menyetujui harga kontrak pembelian tersebut, seperti yang dikutip dari seorang pejabat Turki yang tidak mau disebutkan namanya.

Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut, menurut pejabat Turki, adalah bahwa Turki tidak hanya mendapatkan peralatannya saja namun juga teknologinya. Selain dua baterai S-400, yang akan diproduksi di Rusia dan segera dipasok ke Turki, kesepakatan tersebut akan memungkinkan Ankara merakit sendiri dua sistem rudal yang sama.

Untuk saat ini, tidak dijelaskan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk memasang sistem tersebut di tanah Turki setelah kesepakatan diselesaikan.

Rusia sebelumnya dikhabarkan telah mendapatkan kontrak dengan India dan China untuk penjualan sistem anti-rudal S-400.

Sistem tersebut dikatakan tidak sesuai dengan persenjataan NATO yang ditempatkan di Turki. Masalah potensial dengan integrasi sistem rudal ke dalam infrastruktur NATO memicu kekhawatiran di antara negara-negara anggotanya, dimana Turki menjadi bagian didalamnya.

Sistem Pertahanan Anti Rudal S-400 [Foto : Sergey Malgavko / Sputnik]

Namun, menteri pertahanan Turki Fikri Işık mengatakan pada bulan Maret bahwa Ankara tidak berencana memasukkan sistem rudal ini ke dalam infrastruktur NATO yang ada.

Bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa sementara ini Moskow tidak memproduksikan sistem rudal anti-rudal S-400 di luar negeri, tapi tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan terjadi di masa depan.

“Secara keseluruhan, tidak ada yang tidak mungkin,” kata Putin di sela forum ekonomi St. Petersburg, mengungkapkan bahwa, pada bagiannya, Moskow “siap” untuk memberikan sistem rudal ini ke Turki.

Rostec Corporation sebagai pemasok sistem tersebut melaporkan pada awal Juni bahwa mereka telah menyetujui masalah teknis dengan rekan-rekan di Turki dan sedang menunggu aspek finansial dari kesepakatan tersebut untuk diselesaikan yang diperkirakan mencapai $ 2,5 Milyar.

“Sedangkan untuk sistem S-400, diskusi sedang berlangsung, semua masalah teknis telah disepakati, diskusi saat ini mengacu pada masalah keuangan,” CEO Rostec Sergey Chemezov mengatakan, bahwa Ankara sedang mencari pinjaman untuk membeli sistem tersebut.

Turki telah lama berusaha membangun sistem pertahanan udara nasional, namun kekurangan teknologi yang tepat.

Pada tahun 2015, Turki membatalkan perjanjian senilai 3,4 miliar dolar dengan China untuk pengiriman sistem pertahanan udara jarak jauh yang serupa, FD-2000, setelah Beijing dilaporkan menolak untuk berbagi pengetahuan teknologi sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.

Hubungan antara aliansi pimpinan AS dan Ankara mengalami kemunduran setelah usaha kudeta yang gagal di Turki pada Juli tahun lalu, diikuti oleh pembersihan berskala besar dalam dinas militer dan sipil yang dilakukan oleh Erdogan.

Keengganan AS untuk mengekstradisi dalang utama dugaan di balik kudeta tersebut, Fethullah Gullen, telah membuat ketegangan di antara kedua negara tersebut. Pertengkaran lain adalah dukungan jangka panjang AS untuk pasukan Demokrat Suriah Suriah yang dipimpin Kurdi (YPG) dalam perjuangan mereka melawan ISIS. Ankara menganggap YPG sebagai sayap Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK).

Erdogan telah berulang kali meminta Washington untuk menarik dukungannya untuk pejuang YPG, dan mengecam keputusan Washington untuk membantu sebuah “organisasi teroris.”

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment