Sedikitnya 23 Tentara Mesir Tewas dan Puluhan Lainnya Terluka di Sinai

BERITAKITA.CO | Sebuah ledakan mobil dan serangan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok militan pada sebuah pos pemeriksaan militer Mesir di semenanjung Sinai, menewaskan sedikitnya 23 tentara dan melukai puluhan lainnya, kata beberapa pejabat militer di sana.

Di antara mereka yang tewas dalam serangan tersebut adalah lima orang perwira, termasuk seorang kolonel pasukan khusus tingkat tinggi, Ahmed el-Mansi. Serangan yang terjadi pada hari Jumat (7/7) merupakan serangan yang paling mematikan di militer negara itu tahun ini, menurut petugas keamanan setempat.

Serangan tersebut berawal saat seorang militan menabrakkan kendaraannya ke sebuah pos pemeriksaan di sebuah kompleks militer di desa el-Barth, sebelah barat daya kota perbatasan Rafah. Kemudian dilanjutkan dengan tembakan senjata berat dari puluhan militan bertopeng yang berjalan kaki, kata pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk berbicara dengan media, seperti dilansir oleh Guardian.

Militan tersebut tiba di pos pemeriksaan, yang berada di daerah terpencil dan menembaki tentara yang berada di pos dengan senapan mesin selama hampir setengah jam, kata beberapa pejabat. Diperkirakan ada sekitar 60 tentara sedang bertugas di pos itu.

Pasca serangan tersebut, militan menjarah pos pemeriksaan, membawa kabur senjata dan amunisi sebelum melarikan diri dari tempat kejadian. Tidak jelas apakah mereka juga membawa kendaraan lapis baja.

Daerah di sekitar pos pemeriksaan tersebut dikenal sebagai benteng kelompok ISIS dan merupakan lokasi pertempuran sengit di musim semi antara kelompok suku dan para militan. Pejabat tersebut mengatakan beberapa perwira senior mengkritik lokasi pos pemeriksaan, dengan alasan tidak memberikan perlindungan yang aman untuk para penjaga.

Sebelumnya, juru bicara militer Mesir, Tamer el-Rifai, mengkonfirmasi serangan tersebut di Facebook.

Dia mengatakan bahwa tentara telah menggagalkan serangan yang menargetkan sejumlah pos pemeriksaan lainnya di wilayah Rafah dan bahwa 40 militan terbunuh. Saksi mata mengatakan bahwa mereka melihat helikopter Apache melakukan serangan udara melintasi Rafah setelah serangan tersebut terjadi.

Di halamannya, el-Rifai memposting foto-foto militan yang diduga terbunuh dengan pakaian seragam militer.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, Mesir telah berjuang melawan pemberontakan di Sinai utara dalam beberapa tahun terakhir, terutama oleh militan yang berafiliasi dengan ISIS.

Meskipun mereka belum menguasai wilayah di Sinai, mereka memiliki kehadiran yang kuat di daerah barat dan selatan Rafah, di pinggiran kota Sheikh Zuweid, dan di dalam wilayah pemukiman di kota terbesar Sinai, el-Arish.

Selama beberapa bulan terakhir, ISIS telah memfokuskan serangannya pada minoritas Kristen Mesir dan membunuh puluhan orang dalam setidaknya empat serangan,  yang mendorong presiden Abdel Fatah al-Sisi, untuk mengumumkan keadaan darurat.

Namun, Sinai utara yang bergolak telah berada di bawah keadaan darurat sejak Oktober 2014 setelah militan Islam membunuh lebih dari 30 tentara dalam sebuah serangan tunggal.

Pada bulan Januari, delapan polisi tewas di el-Arish dalam sebuah ledakan mobil.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment