“White Palace” Istana Mewah Presiden Erdoğan

BERITAKITA.CO | Kehadiran Presiden Indonesia Joko Widodo ke Turki dalam rangka kunjungan balasan, rencananya akan disambut oleh koleganya Presiden Erdogan dalam upacara kenegaraan di Kompleks  Istana Kepresidenan Turki yang sangat mewah dan terkenal dengan sebutan ”White Palace” atau Istana Putih.

Seperti apakah bentuk dan keberadaan Istana tersebut? Redaksi Beritakita.co akan menyiapkan semua informasinya untuk Anda semua.

Kompleks Istana Kepresidenan Republik Turki ini terletak di kawasan Beştepe, Ankara, di sebuah area yang termasuk dalam kawasan hutan lindung Atatürk.

Dengan luas mencakup 1,6 mil persegi atau sekitar 414 hektar, kompleks bangunan  ini diperkirakan bernilai lebih dari £ 500 juta, ($ 650 juta) dan jika dikonversi ke mata uang kita bernilai mendekati angka Rp. 9 triliun. Bandingkan dengan APBD Aceh yang besarnya Rp. 14,7 triliun untuk tahun 2017 ini.

 

Istana Kepresidenan Turki White Palace [Foto : Volkan Furuncu/Anadolu Agency/Getty Images]

 

Pembangunan istana kepresidenan terbaru  Turki ini, awalnya sempat mendatangkan kontroversi di kalangan masyarakat Turki. Selain biayanya yang sangat tinggi, pembangunan ini dilakukan di tengah banjirnya kedatangan pengungsi dari Suriah dan gencarnya serangan teroris serta kekerasan politik yang terjadi di dalam negeri. Kontroversi juga berlanjut atas pembangunan ‘Istana Putih’ ini, karena dibangun di atas lahan hutan lindung yang bertentangan dengan hukum yang berlaku di sana.

Namun menurut Presiden Recep Erdoğan, istana yang dibangun pada tahun 2014 ini diperlukan untuk menunjukkan kapasitas negaranya di panggung dunia internasional.

Sesuai dengan konsep “Turki Baru”, Presiden Recep Tayyip Erdoğan, merencanakan bahwa kompleks istana ini akan menjadi markas presiden dan kementerian utama, segera setelah pemilihan umum bulan Juni 2015, saat istana tersebut secara resmi menjadi kediaman Presiden Turki.

Istana baru ini  diresmikan sebagai kediaman presiden oleh Erdoğan pada Hari Republik Turki, 29 Oktober 2014.

Sebelum mendapatkan nama Külliye, yang berarti “kompleks”, istana tersebut dikenal sebagai Ak Saray (yang berarti “istana putih”), yang digunakan sebagai referensi penting bagi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dimana Erdoğan memiliki hubungan erat dengan partai tersebut, meski secara konstitusional diharuskan netral secara politis.

Pembangunan yang sarat dengan kontroversi dan dianggap melawan hukum serta sempat dilarang oleh pengadilan setempat, namun proyek pembangunan istana terus berlanjut, sehingga  beberapa politisi dari partai oposisi dan pendukungnya menyebut istana tersebut sebagai “Kaç-Ak Saray”, yang artinya Istana Putih Ilegal.

Pada tanggal 10 Juli 2015, Dewan Negara Turki sempat menyatakan bahwa pembangunan istana tersebut melanggar hukum dan memerintahkan untuk dikosongkan. Namun, pihak Kepresidenan yang mengutip paragraf 2 dari Pasal 105 Konstitusi Republik Turki telah menyatakan bahwa keputusan tersebut bersifat ultra-vires atau di luar kewenangannya. Paragraf 2 Pasal 105 menyatakan, “Tidak ada banding yang diajukan kepada otoritas kehakiman manapun, termasuk Mahkamah Konstitusi, terhadap keputusan dan perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik atas inisiatifnya sendiri”.

Paus Fransiskus dan Erdogan di depan Istana Putih Turki. [Foto : REUTERS/Tony Gentile ]

 

Paus Fransiskus adalah kepala negara pertama yang berkunjung ke Istana Kepresidenan Turki yang baru pada tanggal 28 November 2014, saat berkunjung ke Turki. Pada tanggal 1 Desember 2014, Presiden Rusia Vladimir Putin adalah tamu asing kedua yang disambut dengan sebuah upacara di depan istana baru tersebut.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment