Al Jazeera, Representasi Kebebasan Dunia Arab yang Terancam Tutup

BERITAKITA.CO | Jaringan media dan televisi Al Jazeera yang bermarkas di Doha, Qatar, terancam ditutup berkaitan dengan blokade negara-negara Arab terhadap Qatar yang dituduh mendukung terorisme. Seperti yang dilaporkan The Guardian, Ahad (2/7)

Pada 23 Juni, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan Bahrain menekan dan memblokade Qatar untuk mendapatkan sanksi diplomatik dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Blokade agresif itu diikuti dengan ancaman akan ada tindakan lebih lanjut jika Qatar gagal memenuhi 13 tuntutan yang diajukan negara Teluk tetangganya. Di mana salah satu tuntutan mereka adalah menutup jaringan media dan televisi yang berkantor di Qatar,  Al Jazeera.

Al Jazeera dikenal sebagai media politik Timur Tengah yang berani dan kontroversial. Media tersebut pernah digembar-gemborkan sebagai suar media Arab yang bebas yang menghancurkan hegemoni jaringan barat dan membalikkan arus informasi dari timur ke barat untuk pertama kalinya sejak abad pertengahan.

Setelah 21 tahun diluncurkan, Al Jazeera masih sangat mengganggu dan menantang penguasa. Hanya sedikit media lain yang bisa mengklaim memiliki pengaruh yang begitu besar. Tapi Al Jazeera tidak seperti lembaga penyairan lainnnya, ini adalah fenomena yang unik, sejak mulai disiarkannya pada tahun 1996, mereka telah merevolusi hapir seluruh media Arab.

Pada 2010 Al Jazeera telah memainkan peran penting dalam mewujudkan revolusi politik yang nyata di sebagian besar dunia Arab. Sebelum Al Jazeera mulai mengudara, berita televisi Arab dianggap sebagai omong kosong totaliter atau corong pemerintah belaka.

Berita-berita yang dimuat hanya seputar apa yang dilakukan syekh, emir atau presiden mereka pada hari itu, beberapa berita tentang ahli warisnya, dan artikel-artikel heroik yang menggambarkan betapa beruntungnya negara tersebut memiliki sosok ‘ayah’ seperti pemimpin mereka.

Namun Al Jazeera tidak melakukan itu, mereka memunculkan suara yang sebelumnya dilarang untuk didengar. Mulai dari Israel, Muammar Khaddafi, pemberontak Kenya, Taliban dan Osama bin Laden. Media tersebut juga mempelopori jurnalisme investigatif yang tepat.

Mereka juga berani menampilkan talk show dengan topik-topik kontroversial seperti bom bunuh diri dan keberadaan Tuhan, yang sebelumnya sangat dibatasi. Ikonoklasme semacam itu menghancurkan tabu sosial, politik, dan agama dan menetapkan standar berita baru di wilayah tersebut. Al Jazeera mengenalkan konsep seperti demokrasi dan hak asasi manusia dan secara drastis mendorong kembali kebebasan berbicara.

Keberadaan Al Jazeera juga sangat mengganggu pemerintah lain di kawasan ini. Kecuali Tunisia pasca-revolusi yang memiliki mandat demokrasi populer. Para pemimpin kerajaan negara-negara di Arab umumnya takut akan hal yang memungkinkan melemahkan kekuasaan mereka.

Aliran krisis diplomatik yang tidak pernah berakhir ini dimulai antara Qatar dan negara-negara lain di wilayah ini kecuali Oman, dan juga banyak negara-negara non-Arab. Segudang cara dari musuh jaringan berita tersebut pernah dilakukan, dari menangkap wartawannya, menutup biro untuk mendeportasi keluarga karyawannya, melecehkan potensi pengiklan, meluncurkan tuntutan hukum yang dibuat-buat hingga, seperti dalam kasusyang dilakukan oleh AS, pengeboman kantornya dua kali dan membunuh anggota stafnya.

Jika Doha menyerah, dan tidak ada tanda-tanda untuk itu, maka secara efektif Qatar akan kehilangan kedaulatannya dan menjadi negara bawahan Arab Saudi dan UEA. Namun mengabaikan tenggat waktu yang diberikan bisa menyebabkan perubahan rezim di Qatar, atau bahkan perang.

Arab Saudi dan Qatar mungkin hanya merupakan dua negara Wahhabi di dunia, namun juga memiliki banyak perbedaan historis dan ideologis, sebagaimana dibuktikan dalam 13 tuntutan yang mereka ajukan untuk Qatar. Al Jazeera masuk dalam daftar tuntutan karena ini adalah simbol kuat Qatar dan manifestasi yang paling nyata dari pembuatan kebijakan Qatar.

Tapi ada alasan yang lebih dalam untuk tetap mempertahankan eksistensi dari Al Jazeera, yang sangat berarti bagi orang barat yang ingin memahami wajah Arab. Karena Al Jazeera memiliki dua bahasa pengantar, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment