Helikopter Serang Gedung Mahkamah Agung Venezuela

Presiden Nicolas Maduro Saat Berbicara di Depan Para Pendukungnya.Foto: REUTERS

BERITAKITA.CO | Sebuah helikopter polisi curian telah melemparkan  granat ke gedung Mahkamah Agung Venezuela dan melepaskan tembakan ke Kementerian Dalam Negeri, di mana Presiden Nicolas Maduro menyebutnya sebagai “serangan teror” terhadap pemerintahannya.

Menteri Informasi Venezuela Ernesto Villegas mengatakan bahwa helikopter yang dicuri tersebut pertama kali melepaskan 15 tembakan pada kementerian di Caracas, ibukota tersebut, saat sebuah resepsi berlangsung pada hari Selasa, demikian seperti dilansir oleh Aljazeera (28/6).

Kemudian terbang jarak dekat ke gedung Mahkamah Agung dan melemparkan empat granat, dua di antaranya berada di dekat penjaga nasional yang melindungi bangunan tersebut.

Maduro mengatakan tidak ada yang terluka saat granat tersebut gagal meledak dalam insiden tersebut.

Serangan tersebut terjadi saat Maduro berbicara langsung di televisi pemerintah kepada para wartawan yang berkumpul di istana kepresidenan.

“Saya telah mengaktifkan seluruh angkatan bersenjata untuk mempertahankan perdamaian,” katanya.

Namun, pihak oposisi di media sosial menuduh presiden itu sendiri mencoba menyebarkan ketakutan untuk membantu membenarkan tindakan keras terhadap orang-orang Venezuela yang berusaha menghalangi rencananya untuk menulis ulang konstitusi.

Maduro telah menghadapi tiga bulan demonstrasi oposisi dan beberapa pembangkangan dari dalam jajaran pemerintahannya sendiri.

Seorang wartawan kantor berita Associated Press mendengar tembakan saat sebuah helikopter terbang rendah di atas pusat kota Caracas namun tidak dapat memastikan dari mana tembakan tersebut berasal.

Phil Gunson, seorang analis senior di International Crisis Group, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ini adalah “insiden yang sangat aneh”.

“Tampaknya di satu sisi menjadi insiden yang terisolasi, tanpa tanggapan sejauh ini dari unit militer manapun atas kejadian tersebut,” kata Gunson, yang berbicara dari Caracas.

“Bisa jadi ini hanya beberapa orang gila yang mencoba melakukan semacam kudeta, atau memang semacam insiden palsu (false flag) yang digunakan pemerintah  untuk membenarkan tindakan keras lebih lanjut,” katanya.

“Pemerintah mengatakan mereka telah mengidentifikasi kelompok yang bertanggung jawab dan mereka mengatakan akan menahan mereka sesegera mungkin,” katanya.

Sebelumnya pada hari Selasa, Maduro memperingatkan bahwa dia dan pendukungnya akan mengangkat senjata jika pemerintah sosialisnya digulingkan dengan keras oleh lawan yang telah berada di jalanan selama tiga bulan.

“Saya mengatakan kepada dunia, dan saya harap dunia mendengarkan setelah 90 hari demonstrasi, penghancuran dan kematian,” kata Maduro  sehubungan dengan kerusuhan anti-pemerintah yang menyebabkan setidaknya 75 kematian di negara anggota OPEC itu bulan sejak April.

Maduro, 54, berbicara dalam sebuah demonstrasi untuk mempromosikan pemungutan suara pada 30 Juli untuk membentuk satu badan khusus  yang disebut Majelis Konstituante, yang dapat menulis ulang piagam nasional dan menggantikan institusi lain seperti kongres yang dikontrol oposisi.

Dia telah memuji majelis sebagai satu-satunya cara untuk membawa perdamaian ke Venezuela. Tapi, pihak oposisi yang ingin maju dalam pemilihan presiden berikutnya yang dijadwalkan pada akhir 2018, mengatakan bahwa ini adalah jajak pendapat palsu yang dirancang semata-mata untuk membuat kaum sosialis berkuasa.

Mereka memboikot pemungutan suara, dan melakukan demonstrasi setiap hari di jalanan untuk mencoba dan menghentikan pembentukan majelis tersebut.

Pemimpin oposisi menyebut Maduro sebagai seorang diktator yang telah menghancurkan ekonomi yang pernah makmur, sementara Maduro membalasnya dengan menyebut mereka pemimpin kudeta yang kejam.

Maduro, yang menuduh Washington mendukung lawan-lawannya dan berusaha mengendalikan kekayaan minyak negara tersebut, mengatakan bahwa “perusakan” Venezuela akan menyebabkan gelombang pengungsi besar.

Kelompok Oposisi Venezuela tidak hanya datang dari partai oposisi saja, tapi juga dari mantan Jaksa Agung Luisa Ortega dan mantan pimpinan dinas intelijen Miguel Rodriguez.

Pada sebuah konferensi pers pada hari Selasa, Rodriguez mengkritik Maduro karena tidak mengadakan referendum sebelum pemilihan Majelis Konstituante, seperti yang dilakukan pendahulunya Chavez pada tahun 1999.

“Ini adalah negara tanpa pemerintahan, ini kacau,” katanya.

Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia namun menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya, dengan kekurangan makanan dan obat-obatan akut. Dana Moneter Internasional meramalkan lebih dari 1600 persen inflasi tahun ini.

Analis Phil Gunson mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ada sejumlah laporan dan rumor mengenai ketidakpuasan di tubuh angkatan bersenjata dalam  beberapa minggu terakhir.

“Tapi sejauh ini, ketidakpuasan itu belum diterjemahkan ke dalam perpecahan dalam angkatan bersenjata, dan ini jelas ditunggu-tunggu oleh pihak oposisi,” kata Gunson.

“Karena, jika Presiden Maduro dapat mempertahankan dukungan angkatan bersenjata, maka dia tampaknya relatif aman dalam posisinya – setidaknya dalam hal menahan demonstrasi oposisi.”

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment