Media Mainstream vs Media Sosial

BERITAKITA.CO | Saat ini, sebagian besar masyarakat dunia sudah kehilangan kepercayaan pada media mainstream (media arus utama) dan cenderung curiga terhadap media sosial, demikian temuan sebuah jajak pendapat dari lembaga kajian jurnalistik, Reuters Institute for the Study of Journalism.

Jajak pendapat ini menemukan adanya kecurigaan tinggi terhadap berita dan komentar. Sekitar 33 persen dari 70.000 responden dari 36 negara mengaku tidak bisa mempercayai kebenaran berita, demikian seperti dilansir oleh Reuters, Kamis (22/6).

Hanya 24 persen responden yang percaya bahwa media sosial melakukan tugas yang baik dalam memisahkan antara fakta dan fiksi , sementara media arus utama mendapat suara 40 persen menyangkut tugas yang sama.

Di sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, para responden punya kecenderungan jauh lebih besar untuk percaya pada media arus utama yang dianggap mampu menghentikan penyebaran berita bohong atau hoax.

Sementara di negara lain seperti Yunani, para warga lebih percaya pada media sosial.

“Meski media arus utama tidak dipercaya, mereka masih punya tingkat kepercayaan dua kali lipat lebih tinggi untuk memisahkan fakta dari fiksi dibanding media sosial,” kata Nic Newman, kepala tim penulis edisi keenam Digital News Report.

“Berita bohong sebenarnya merupakan kabar baik bagi jurnalisme, karena bisa menjadi kesempatan untuk membangun kembali nilai penting mereka bagi masyarakat dan fokus pada kualitas,” kata Newman.

Dia mengatakan bahwa banyaknya berita bohong membuat orang rela membayar mahal untuk mendapatkan berita dari media terpercaya. Saat ini, 16 persen warga Amerika Serikat bersedia berlangganan berita dibanding sembilan persen pada waktu sebelumnya. Bukti yang ada juga menunjukkan kecenderungan sama di negara lain.

Meski banyak yang menganggap kalangan muda lebih memilih berita gratis, penelitian tahunan Reuters Institute menunjukkan bahwa 35 persen konsumen berita dari kalangan muda di seluruh dunia mau membayar berita berkualitas, sebagaimana yang mereka lakukan untuk mendapatkan layanan musik (Spotify) dan video (Netflix).

Jajak pendapat Reuters Institute, yang menggunakan jasa YouGov, juga menunjukkan bahwa 54 persen konsumen kini menggunakan media sosial untuk mengetahui berita terbaru.

Survei yang sama juga menunjukkan keterkaitan erat antara rendahnya tingkat ketidakpercayaan kepada media dan anggapan bias pemberitaan.

Kecenderungan ini sangat nampak di negara-negara dengan polarisasi politik tinggi seperti Amerika Serikat, Hongaria, dan Italia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sering kali menyerang media arus utama karena dianggap menyebar kebohongan dan tidak adil dalam peliputan.

Newman berpendapat bahwa peran media sosial belum tergantikan, meski banyak orang kini memilih aplikasi pengirim pesan untuk mendapatkan berita, karena frustrasi terhadap debat berkepanjangan di Facebook dan Twiter.

“Media sosial berperang besar untuk penyebaran berita insidental, terutama di negara-negara dengan media yang dikontrol oleh pemerintah,” kata dia.

“Media sosial menyebarkan lebih banyak sudut pandang dan isu, sebagaimana terjadi saat krisis migran di mana orang-orang melaporkan secara langsung dari tempat penampungan pengungsi,” kata Newman.

Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Jawabannya pasti tidak jauh berbeda walaupun tidak diungkapkan dalam hasil jajak pendapat di atas.  Tingkat kepercayaan masyarakat di Indonesia juga cenderung sudah menurun terhadap media-media arus utama. Media sosial  dan media arus bawah adalah altenatif yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita yang lebih berimbang.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment