Profil Mantan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Nayef

Mohammed bin Nayef bin Abdulaziz dijuluki "Pangeran Kontraterorisme" [Reuters]

BERITAKITA.CO | Mohammed bin Nayef bin Abdulaziz Al Saud, 57 tahun,  keponakan dari Raja Salman, adalah putra mahkota sampai dia digantikan oleh sepupunya, Mohammed bin Salman, sebagai pewaris takhta kerajaan Arab Saudi.

Dalam reshuffle hirarki Arab Saudi pada tanggal 21 Juni, mantan putra mahkota juga dibebaskan dari semua perannya, termasuk wakil perdana menteri dan menteri dalam negeri.

Baca Juga : Arab Saudi Tunjuk Mohammed bin Salman Jadi Putra Mahkota

“Saya puas,” kata Pangeran Mohammed bin Nayef tentang penunjukan sepupunya menjadi putra mahkota, dia juga menambahkan: “Saya akan beristirahat sekarang, semoga Tuhan membantu Anda”.

Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam bidang intelijen, dan telah memainkan banyak peran penting dalam kebijakan keamanan dalam negeri Saudi, Mohammed bin Nayef dikenal sebagai “pangeran kontraterorisme”.

Banyak analis berpendapat bahwa Mohammed bin Nayef adalah pemimpin paling pro-Amerika dari  seluruh pemimpin Arab Saudi.

Mohammed bin Nayef menimba ilmu di Amerika Serikat, mengikuti kuliah di Lewis & Clark College di Portland, Oregon. Pada akhir 1980an, Mohammed bin Nayef belajar di Biro Investigasi Federal (FBI) sebelum menggantikan posisi ayahnya di Kementerian Dalam Negeri. Dia juga mengikuti kursus “anti-terorisme” di Scotland Yard Unit.

Sebelum serangan 11 September di AS, Mohammed bin Nayef telah mengembangkan hubungan dengan pejabat AS sebagai tokoh yang dihormati dalam “perang melawan terorisme”.

Dia memimpin sebuah tim khusus untuk memerangi  al-Qaeda di Arab Saudi antara tahun 2003 dan 2007, di mana serangan al -Qaeda terhadap markas keamanan, kompleks perumahan asing dan gedung-gedung pemerintah telah membunuh puluhan petugas keamanan dan orang asing.

Badan Intelijen Pusat AS (CIA) menganggap Mohammed bin Nayef sebagai kunci untuk mengalahkan al-Qaeda.

George Tenet, mantan direktur CIA, menggambarkan Mohammed bin Nayef sebagai “mitra bicaranya yang paling penting”.

Pada tahun 2009, Mohammed bin Nayef selamat dari upaya pembunuhan oleh al-Qaeda setelah setuju untuk bertemu dengan Abdallah Asiri, seorang anggota al-Qaeda yang mencoba menjebak  dirinya dengan berpura-pura telah bertobat. Pada saat pertemuan di Jeddah, Asiri meledakkan sebuah rompi bunuh diri, namun akhirnya, ledakan tersebut hanya sedikit melukai Mohammed bin Nayef.

Sejak saat itu, Mohammed bin Nayef menjadi lebih represif terhadap keamanan dalam negerinya. Ada banyak penangkapan tersangka al-Qaeda. Usaha pembunuhan yang gagal atas dirinya dan keberhasilan  pembersihan jaringan teroris di dalam negeri menyebabkan banyak orang di Arab Saudi menganggapnya sebagai pahlawan.

Dia ditunjuk sebagai menteri dalam negeri pada tahun 2012 dan wakil perdana menteri pada tahun 2015. Setelah itu dia terkesan mulai mengurangi aktivitasnya di kerajaan.

Peran berbeda terlihat pada diri Mohammed bin Salman, pangeran yang baru dinobatkan. Dia membangun pencitraan tentang peran penting  dirinya sebagai arsitek perang Yaman.

Pada tahun 2017, Mohammed bin Nayef dianugerahi medali oleh direktur baru CIA, yang menghormati kontribusinya terhadap karya “kontraterorisme”.

Sumber: Al Jazeera dan news agencies

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment