Pengakuan Belanda Terhadap Para Pejuang Aceh

Sumber Foto: Atjehliterature

BERITAKITA.CO | KITA, masyarakat Aceh patut berbangga dengan para leluhur, karena leluhur kita memiliki semangat perjuangan yang luar biasa, jangan pernah lupakan sejarah bahwa bangsa lain sangat mengagumi dan mengakui semangat kepahlawanan leluhur kita.

Bangsa Aceh dikenal dengan karakter yang memiliki gengsi, ego dan menjaga martabatnya yang tinggi. Aceh juga dikenal dengan sifat pantang terhina, lebih baik kehilangan nyawa dari pada kehilangan kehormatannya. Karena sifat inilah, para penjajah merasa tertekan dan pusing menghadapi bangsa Aceh selama ratusan tahun dan merasa menyesal telah memulai peperangan dengan bangsa Aceh.

Dalam buku Perang Kolonial Belanda di Aceh yang diterbitkan tahun 1977, ada sejumlah kutipan dari peneliti Belanda yang memuji kepahlawanan masyarakat Aceh dalam menghadapi invasi Belanda. Berikut beberapa kutipannya.

Penulis Belanda H.C. Zantgraff dalam bukunya yang masyur, Atjeh, menulis :

Yang Sebenarnya ialah bahwa orang-orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa; mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita”.

Dalam halaman lain buku yang sama , Zentgraff menambahkan ;

“Namun dari semua pemimpin peperangan kita yang pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain”.

Dalam halaman 100 buku Atjeh, Zentgraff menulis :

“Demikian berakhirnya kehidupan Teungku di Barat dan ulama-ulama termasyhur lainnya di daerah yeng lebih menyukai “mati syahid” daripada “melaporkan diri” (menyerah-kalah kepada lawan).

….. dan adakah satu bangsa di permukaan bumi ini yang tidak akan menulis di dalam buku-buku sejarahnya mengenai gugurnya tokoh-tokoh heroic dengan penghargaan yang setinggi-tingginya?”.

Penulis Belanda yang lain, A. Doup bukunya berjudul Gedenkboek van het Korps Marenchaussee 1890-1940 (Mengenang Korps Marsose) yang terbit tahun 1942, pada halaman 248 menulis :

Kepahlawanan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya, seperti yang diperagakannya selama perang Belanda di Aceh menimbulkan rasa hormat pada pihak marsose serta kekagumannya akan keberanian, kerelaan gugur di medan juang, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis-habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat perang yang murni asli, sementara daya pengamatannya sangat tajam. Ia mengamat-amati dengan cermat setiap gerak-gerik pemimpin brigade, dan ia tahu benar pemimpin-pemimpin brigade mana yang melakukan patroli dengan ceroboh serta mana pula yang selalu siap siaga dan berbaris secara teratur)”.

Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh-Oorlog (Perang Aceh) yang terbit tahun 1969, pada halaman 301, Paul menambahkan ;

Aceh adalaha daerah terakhir yang ditaklukkan oleh Belanda dan merupakan daerah pertama yang terlepas dari kekuasaannya. Kepergian Belanda dari sana pada tahun 1942 adalah saat terakhir ia berada di bumi Aceh. Selama 69 tahun, Belanda tak henti-hentinya bertempur di Aceh dan ini sudah lebih daripada cukup”.

 Sementara Pierre Heijboer, dalam buku Klamboes, Klewangs, Klapperbomen yang terbit tahun 1977 pada halaman 137 menulis ;

“Orang-orang Aceh ternyata bukan saja pejuang-pejuang yang fanatik, akan tetapi mereka juga tergolong pembangun kubu-kubu pertahanan yang ulung sekali”. 

Sangat membanggakan bukan? Leluhur kita telah dikenal dengan sifat keras kepala dan pantang menyerahnya. Sampai sekarang  “KITA” masyarakat Aceh dikenal dengan sifat itu, karena di setiap darah yang mengalir dalam tubuh kita, masyarakat Aceh adalah darah-darah para pejuang yang disegani dan ditakuti oleh lawannya. Ingat dan jagalah ini, kalau para leluhur telah membentuk jati diri kita “ACEH”.

 

[Sumber Referensi : Atjehpost.com]
Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment