Aceh di Mata Orang Malaysia

BERITAKITA.CO | Redaksi Beritakita.co kali ini mencoba untuk mengangkat sebuah tulisan inspiratif dari seorang mantan mahasiswa Aceh yang pernah belajar di Malaysia.

Walaupun artikel ini sudah ditulis beberapa tahun yang lalu, Redaksi  Beritakita.co masih menganggap nilai inspiratif yang terpancar dari tulisan ini masih tetap bisa dijadikan motivasi bagi para pemuda-pemudi Aceh dimanapun mereka berada untuk terus maju dalam menuntut ilmu.

Tulisan ini juga didedikasikan untuk Bapak Irwandi Yusuf, yang telah memberikan banyak kesempatan untuk para pemuda-pemudi Aceh dalam menimba ilmu di negeri seberang selama menjabat Gubernur Aceh. Semoga masa kepemimpinan berikutnya, beliau mau memberikan kesempatan itu lagi untuk kemajuan bangsa Aceh.

**********************

Saya adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa penuh dari Pemerintah Aceh untuk melanjutkan pendidikan ke satu perguruan tinggi di Malaysia.

Kesan pertama yang dapat saya gambarkan ketika hari pertama berada di kampus adalah bahwa kedatangan rombongan kami sudah menjadi isu yang beredar di kalangan mahasiswa asal Malaysia.

Selama seminggu menetap di asrama yang disediakan oleh universitas semakin terlihat bahwa keberadaan mahasiswa Aceh di kampus tersebut terasa istimewa. Ketika rombongan kami berdiri di barisan antrean bus, misalnya, mahasiswa Malaysia dengan seksama memperhatikan penampilan kami. Hal tersebut berlanjut ketika kami menaiki bus dan terkadang harus berdiri karena kondisi bus yang penuh sesak. Perhatian berlebihan yang diperlihatkan oleh mahasiswa Malaysia menjadi tanda tanya bagi saya khususnya dan mungkin bagi mahasiswa Aceh lainnya.

Setelah setahun lebih berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman, dosen dan masyarakat umum di Malaysia, rasa penasaran saya terhadap keberadaan mahasiswa Aceh yang selama ini menjadi pusat perhatian mahasiswa lokal perlahan mulai terjawab.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya selama menetap di Malaysia, ada beberapa faktor yang menjadi identitas ketika menyebutkan diri kita adalah orang Aceh. Identitas tersebut menjadi umum bagi masyarakat Malaysia untuk mendeskripsikan kata Acheh.

Antusias bertanya Pada saat saya berbicara dengan seorang mahasiswa lokal Malaysia dan kemudian mengatakan bahwa saya adalah orang Aceh, maka dengan antusiasnya mahasiswa tersebut bertanya segala sesuatu tentang kejadian tsunami yang melanda Aceh. Hal serupa juga saya alami ketika berbicara dengan beberapa masyarakat umum yang asli warga Malaysia. Rasa simpati dan keingintahuan yang luar biasa adalah ekspresi umum yang akan ditunjukkan oleh kebanyakan orang Malaysia ketika tahu kita berasal dari Aceh.

Pada saat musim durian, kami dapat menikmati durian dengan puasnya dan dengan harga yang sangat murah. Kebetulan kampus kami terletak di daerah perbukitan dan sangat terkenal dengan rasa durian terlezat di Malaysia. Cukup hanya menyeberangi ruas jalan utama di depan kampus, kami dapat menikmati durian lezat dan segar yang baru diambil dari pohon oleh penjualnya.

Suatu hari saya pergi ke tempat orang berjualan durian bersama seorang kawan asal Malaysia. Ketika sedang asyik menikmati durian, tiba-tiba seorang penjual durian menanyakan asal saya dan saya menjawab dari Aceh. Pada saat mengetahui saya orang Aceh, penjual durian dengan semangatnya bertanya tentang syariat Islam yang dijalankan di Aceh.

Ada satu pertanyaan penjual durian tersebut yang membuat saya merasa campur aduk di dalam hati. Dengan polosnya bapak itu bertanya: “Di Aceh orang-orang pakai jubah ye?” Mendengar pertanyaan bapak tersebut, seketika saya membayangkan gaya hidup dan fashion yang sekarang sedang berkembang di Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam.

Ada satu peristiwa yang sampai sekarang ini masih kuat terngiang dalam ingatan saya. Pada hari terakhir pertemuan satu mata kuliah semester tiga, kami mahasiswa pasca sarjana asal Aceh dan mahasiswa Malaysia sepakat untuk makan siang bersama di sebuah kedai makan yang letaknya tidak jauh dari ruang kami belajar. Ini adalah ajang silaturrahmi antara sesama mahasiswa yang memiliki budaya serumpun. Makan siang saat itu diselingi dengan canda tawa dan diskusi ringan tentang budaya kedua negara.

Seorang mahasiswa perempuan asal Malaysia menceritakan kepada kami bahwa dia bersama suaminya mempunyai hajat untuk mengunjungi dua tempat sebelum mengunjungi tempat-tempat lain di dunia ini. Tempat pertama yang dimaksud adalah Ka’bah di Mekkah dengan malaksanakan ibadah haji. Selanjutnya tempat kedua yang ingin didatangi oleh mahasiswa tersebut adalah Aceh.

Saya merinding dan terharu mendengar cerita yang disampaikan kawan saya itu. Hati saya bergeming betapa orang muslim di luar Aceh menganggap Aceh adalah “negeri suci” berlandaskan syariat Islam sehingga patut untuk dikunjungi. Sangat pemberani Pertanyaan lain yang akan ditanyakan oleh orang Malaysia ketika tahu kita orang Aceh adalah mengenai Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Mereka bertanya tentang keberadaan GAM saat ini apakah masih ada atau tidak. Pandangan mereka adalah orang Aceh sangat pemberani dan kuat sehingga dapat melakukan gerakan perlawanan terhadap Pemerintah RI. Berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan masyarakat Aceh, masyarakat Malaysia sangat jarang dan takut untuk melakukan protes terhadap pemerintah yang berkuasa.

Mungkin hal tersebut karena budaya mereka yang kental dengan sistem kerajaan. Sifat pemberani ini juga sangat ditonjolkan oleh mahasiswa Aceh dalam proses belajar mengajar di dalam ruang maupun di luar ruang. Boleh jadi, hal itu juga yang memperkuat identitas orang Aceh sebagai pemberani. Perkara-perkara positif yang menjadi identitas kita sebagai orang Aceh di mata masyarakat luas di luar Aceh perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Perilaku sopan dan santun harus kita jaga dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi budaya dan karakter masyarakat Aceh. Identitas positif Aceh yang sudah melekat dalam pikiran masyarakat luar merupakan modal utama dalam rangka mensukseskan Visit Aceh Year 2013. Alangkah kecewanya orang yang berkunjung ke Aceh ketika mendapati kenyataan bahwa Aceh tidak seperti apa yang mereka bayangkan. Kesuksesan program Visit Aceh Year 2013 (termasuk Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VI yang akan digelar tahun ini-red) akan mendatangkan investor asing ke Aceh dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Aceh.

* Rosmiati Jakfar, Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Special Education Sultan Idris, Education University, Perak, Malaysia

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment