Tikar Pandan, Kreativitas Masyarakat Aceh.

BERITAKITA.CO | Aceh memiliki kreativitas yang beragam. Mulai dari memandai besi menjadi rencong, sebagai senjata tradisional Aceh. Rencong kini telah diproduksi menjadi souvenir yang menarik. Selain itu, ada juga yang giat menenun songket, membuat kopiah Aceh, kreasi rotan, bahkan menganyam tikar pandan.

Masyarakat Aceh sudah mengenal anyaman tikar pandan dari dahulu, khususnya masyarakat di pesisir pantai di mana terdapat banyak pohon pandan ( bak seukeu ). Dulu bagi masyarakat Aceh menganyam tikar sudah jadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun dan menjadi kegiatan rutin bagi para wanitanya. Tetapi, sekarang anyaman tikar sudah sangat jarang ditemui. Hanya beberapa daerah saja yang masih melestarikannya.

Tikar pandan ini merupakan bagian dari ritual adat dan biasanya digunakan pada saat upacara pernikahan, menyambut tamu, ucapara kematian dan upacara doa selamat untuk anak yang baru lahir dan ritual adat lainnya.

Bahan pembuatan tikar pandan adalah dari daun pandan berduri yang tumbuh di pesisir dan merupakan semak belukar. Daun pandan yang dipakai merupakan daun pandan yang sudah tua, dengan panjang daunnya 1,5 sampai 2 meter agar kualitas tikar yang didapat kuat dan bagus. Sebelumnya duri pandan dibersihkan lalu dijemur sampai benar-benar kering.  Kemudian, disayat berdasarkan alurnya seukuran lebih kurang 0,5 cm agar bisa dianyam. Pandan kering ini kemudian direbus lagi hingga lunak. Setelah itu kembali dijemur. Jika pengrajin menginginkan corak yang variatif, dapat dicelupkan ke dalam air panas yang telah dicampurkan pewarna. Setelah beberapa saat, diangkat, lalu dijemur kembali hingga kering.

Zaman sekarang banyak para remaja tidak tertarik untuk membuat dan melestarikan kerajinan tangan yang satu ini, karena sekarang sudah banyak dijual karpet dan ambal yang bermacam motifnya. Padahal ini adalah kekayaan budaya kita yang harus terus dilestarikan untuk anak cucu kita. Zaman boleh berganti, tetapi budaya tetaplah harus dijaga karena ini adalah jati diri kita. Salam Ureng Aceh.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment