Permainan Tradisional Aceh yang Hampir Punah

BERITAKITA.CO | Jika kita berbicara tentang permainan yang ada di Indonesia, hampir semua daerah memiliki permainan khasnya, termasuk permainan tradisional yang ada di Tanah Rencong. Namun seiring bergantinya zaman, permainan-permainan tradisional ini mulai terlupakan, bahkan hampir sebagian besar remaja sekarang tidak mengenal apa permainan tradisional didaerahnya, kenapa demikian? Karena mereka sudah mengenal dan sibuk dengan gadget-gadgetnya. Miris bukan? Zaman sudah berganti, semua menjadi serba modern.

Nah, berikut adalah permainan tradisonal khas Aceh yang hampir punah :

  1. Peupok Leumo

Peupok Leumo merupakan permainan khas dari Aceh Besar, sebuah permainan mengadu ketangkasan sapi. Permainan ini sebelumnya berkembang di kalangan peternak sapi dalam satu kawasan mukim. Sapi-sapi diadu secara fisik, namun para ulama menentang permainan ini dikarenakan bentuk penganiayaan terhadap hewan. Maka dari itu permainan ini tidak dibudidayakan lagi karena mengandung unsur kekerasan terhadap hewan.

  1. Geudeu – Geudeu

Geudeu-geudeu merupakan seni bela diri dari Pidie/Pidie Jaya. Hampir sama halnya dengan gulat, dimainkan oleh kaum lelaki. Permainan ini terdiri atas tim, satu tim berjumlah 3 orang, dan biasanya geudeu-geudeu dipertandingkan antar kampung setiap selesai panen padi.

Ini merupakan olah raga yang keras, karena para petarung haruslah memiliki ketahanan fisik serta mental yang kuat, tahan banting dan tahan pukulan. Namun di sini perlu adanya kestabilan emosi, apabila petarung memiliki emosi yang tidak stabil maka akan berujung pada kematian. Sistem bertarungnya, para petarung dibagi menjadi 2 kelompok besar, petarung pertama tampil ke arena untuk menantang dua petarung yang lain dengan mengkacak-kacak sambil membunyikan jarinya. Penantang (Ureung Tueng) mengunakan kepalan dan pukulan untuk menjatuhkan lawan, sedangkan yang ditantang (Ureung Pok) hanya boleh membanting dan menghempaskan si penantang dengan kedua tangan yang berpegangan hingga salah satu dari mereka kalah. Permainan ini juga memiliki wasit dan terdiri dari beberapa ronde. Saat ronde kedua posisi tueng beralih ke pok, dan akan terus berlangsung dalam waktu tertentu.

  1. King – Kingan

King-kingan berasal dari bahasa suku Kluet (Aceh Selatan) yang artinya kejar-kejaran di air. Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak dengan usia 9-11 tahun. Permainan ini merupakan permainan tim, setiap tim terdiri dari 5 orang. Lawan akan ditentukan berdasarkan keterampilan dan besar badannya, selanjutnya pemain akan berenang dan menyelam untuk mengejar lawan. Apabila berhasil memegang atau mendapatkan lawan, maka lawan akan berbalik mengejar. Pegangannya tidak boleh terlalu kuat dan tidak boleh memegang kepala karena akan sangat berbahaya.

  1. Geulayang Tunang

Geulayang Tunang terdiri atas dua kata, yaitu geulayang yang berarti layang-layang dan tunang berarti pertandingan. Dari namanya saja sudah jelas bahwa geulayang tunang merupakan perlombaan layang – layang yang dimainkan saat musim panen raya dan di saat angin timur tiba. Sehingga warga masyarakat memanfaatkan kekuatan angin untuk menerbangkan layang-layang. Permainan ini dilakukan oleh orang dewasa atau para petani saat waktu luang tiba. Cara memainkannya  berdasarkan tim, satu tim terdiri dari 4-5 orang untuk mengadu layangannya, disinilah perlu adanya keahlian dan kekompakan dari tim masing-masing. Semakin besar layangan tersebut semakin sulit dibuat dan sulit juga untuk memainkannya.  Hadiah dari perlombaan ini ialah seekor kambing atau sapi yang nantinya akan disembelih dan dimasak untuk dimakan bersama-sama.

  1. Bola Keranjang

Bola keranjang atau bahasa Gayo disebut dengan tipak rege merupakan sejenis permainan bola yang dibuat dari rotan belah yang dipergunakan pada permainan sepak takraw. Permainan ini sudah jarang sekali dilakukan. Pada bola keranjang diikat rumbai-rumbai kain yang ber­warna merah, putih, dan hitam, sebanyak 15 helai. Zaman dulu, sepak raga merupakan sejenis permai­nan rakyat. Permainan ini sangat digemari oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa.

  1. Meuen Galah

Permainan ini membutuhkan lapangan yang sangat luas, dengan lebar kira-kira 4 meter dan panjang 10 meter yang dibagi menjadi 6 kotak persegi. Dimainkan oleh 10 peserta yang dibagi menjadi 2 tim, awalnya 5 peserta masuk dalam persegi sisi awal kemudian berusaha melepaskan diri dari hdangan lawan yang menjadi penjaga. Jika pemain dapat lolos hingga di akhir sisi persegi dan tidak ada anggota kelompok yang tertangkap maka dapat dikatakan sebagai pemenang.

Itu dia beberapa permainan tradisional Aceh yang sudah sangat jarang dijumpai. Cintailah budaya sendiri dan marilah kita jadikan permainan ini sebagai destinasi di Tanah Rencong dengan cara memperkenalkan dan memainkannya kembali. Jak rakan tanyoe bahoe-meubaho ta peulestarikan budaya Aceh. Salam ureung Aceh.

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment