Di mana “Pancasilaku”, Tanya Sang Garuda

BERITAKITA.CO | Hari ini, Kamis 1 Juni 2017, seekor burung raksasa berpekik kencang di udara nusantara. Itulah Sang Garuda, burung tunggangan para dewa yang terlihat berputar-putar di angkasa raya tanpa arah dan tujuan nyata.

Dengan perasaan lelah, Sang Garuda hinggap di atas sebuah pohon beringin tua. Dia terlihat gundah dengan sinar mata yang terkesan murka. Keperkasaannya seakan mulai berkurang. Dia tidak lagi menggunakan perisai yang terantai kuat didadanya. Itulah jubah kebesaran Sang Garuda yang selalu diagungkan para pemujanya. Sepotong pita putih juga sudah tidak terlihat lagi di jari kakinya. Dia sepertinya mulai merasa malu untuk menunjukkan jati dirinya.

Terngiang di dalam benaknya, “Engkau harus menjaga persatuan dan keadilan rakyat yang ada di nusantara”, perintah para dewa, saat memberikan jubah kebesaran berbentuk perisai berantai besi dan sebuah pita berwarna putih kepada Sang Garuda.

“Engkau juga harus bisa menumpas lawan yang coba mengganggu rakyat di nusantara”, pesan para dewa pada Sang Garuda.

“Bagaimana aku harus melakukannya, sedangkan aku hanyalah seekor burung?” tanya Sang Garuda dalam keadaan ragu-ragu.

“Ingatlah pesan ini baik-baik. Kami memberikan padamu sebuah pusaka yang sangat ampuh. Engkau harus menjaga dan menjadikan pusaka tersebut sebagai pedoman hidup bagi rakyat di nusantara. Pusaka ini bernama PANCASILA”, pesan para dewa kepada Sang Garuda.

“Ini adalah pusaka lainnya yang juga sangat ampuh. Pita putih ini bertuliskan sebuah mantera sakti. Jagalah pusaka dan mantera ini baik-baik agar rakyat di nusantara bisa saling hidup damai dan tenteram.” Itulah kalimat terakhir yang terucap dari para dewa.

Saat ini Sang Garuda terlihat lelah di atas pohon beringin tua. Dia telah kehilangan pusaka pemberian para dewa pada saat dia bertempur melawan musuh-musuhnya. Pedang keserakahan telah memutus rantai jubahnya dan membuat pusaka PANCASILA terjatuh dan hilang entah ke mana. Panah ketidakadilan telah merobek pita manteranya, sehingga dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menjaga kedamaian dan ketenteraman rakyat di nusantara.

Sang Garuda terlihat merenungkan nasib rakyat yang ada di nusantara. Dia merasa telah berdosa karena gagal melaksanakan perintah para dewa. Pusakanya hilang entah ke mana dan manteranya juga telah dirusak oleh musuhnya.

Dalam gelisahnya, Sang Garuda hanya bisa bertanya dalam hati, “Di mana Pancasilaku?. Mengapa engkau harus hilang dan meninggalkanku.”

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment